SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Lebih dari 100 orang warga Desa Nlgobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendatangi lokasi eksplorasi ulang (re-entry) sumur NGBU 04 oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu Alas Dara Kemunig (PEPC ADK), di desa setempat, Jumat (6/2/2015).
Aksi spontanitas tersebut dilakukan warga karena kesal, lantaran tidak kunjung ada penjelasan dari manajemen PEPC ADK terkait kebisingan dan getaran yang dirasakan warga selama ini. Dalam aksi tersebut tampak sebagian kaum perempuan membawa serta anak mereka yang masih balita di lokasi eksplorasi.
Kebisingan akibat suara gemuruh disertai getaran itu, dirasakan telah  mengganggu warga. Terlebih selama ini belum ada sosialisasi terkait kebisingan dari kegiatan tersebut. Banyak dari mereka mengaku gelisah dengan suara gemuruh, dan getaran yang mereka rasakan.
“Setiap malam rasanya was-was,†kata Sutarni yang membawa serta cucunya berumur delapan bulan.
Menurut dia, setiap malam dirinya tidak bisa tidur tenang akibat suara gemuruh disertai getaran. Banyak warga lain merasakan hal yang sama, terutama anak kecil dan bayi.
“Hampir setiap malam saya tidak bisa tidur, Mas. Apa lagi di rumah ada cucu saya yang masihkecil, setiap malam pasti terbangun,â€Â katanya sambil menggendong cucunya di lokasi.Â
Dia mengaku, rumahnya tidak jauh dari lokasi kegiatan, “Sekita 500 meter dari sini, Mas,†ujar warga RT 1 RW 3 ini.
Menurut Hariyanto (32), aksi warga itu merupakan kali ke tiga sejak warga merasakan ganggguan dari lokasi kegiatan. “Sebelum tanggal 27 Januari, saya sudah datang menyampaikan keluhan warga kepada security,†katanya.
Karena tidak ada tanggapan dari manejemen PEPC ADK, pada tanggal 27 Januari, kembali datang bersama 28 warga dengan maksud sama. “Kami hanya ingin memperoleh penjelasan,†katanya.
Menurutnya, kedatangan mereka juga diterima oleh kepala security setempat. “Dia berjanji akan menyampaikan kepada atasan, tapi sampai sekarang tidak ada jawaban,†jelas Hari.
Setelah ditunggu lebih dari satu minggu, warga merasa tidak tenang dan langsung mendatangi lokasi. “Tadi malam yang paling parah, jadi untuk ketiga kalinya ini kami ingin segera mendapat penjelasan,†ujar Hari.
Sementara itu, Kepala Desa Nglobo, Sujatmiko, membenarkan jika aksi tersebut adalah spontanitas warga yang ingin mendapat penjelasan. “Kami datang kesini dengan baik- baik, bukan untuk mendemo. Hanya saja kami ingin minta kejelasan mengenai suara bising dan gemuruh yang selalu mengganggu setiap malam itu,†jelasnya.
Dia menambahkan, suara kebisingan dan gemuruh itu terjadi bukan hanya malam hari saja tetapi hampir setiap hari. Baik pagi, siang sore dan malam hari. Namun suara yang paling terasa saat malam hari sebab saat sunyi suara terasa keras sekali.
Public Government Affair PEPC ADK, Pandu Subianto, dikonfirmasi terpisah melalui telepon selulernya menjelaskan, bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi terkait kebisingan kepada warga. “Kami sudah melakukan sosialisasi,†katanya.
Dia katakan, bahwa aksi tersebut sangat berbahaya karena tidak ada ijin dari pihak kepolisian, dan tidak ada pemberitahuan. “Kalau terjadi insiden, siapa yang bertanggung jawab,†jelasnya yang saat itu tidak berada di lokasi.
Seharusnya, menurut Pandu, bisa melalui prosedur yang lebih baik. “Bisa melalui surat mengenai keluhan warga, biar nanti kami sampaikan pada menejemen,†ungkapnya yang mengaku bahwa pihaknya telah memberdayakan warga sekitar, salah satunya pemberdayaan LINMAS untuk keamanan. (ams)