Korban DBD di Blok Cepu Terus Bertambah

SuaraBanyuurip.com - Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro- Korban Demam Berdarah Dengue (DBD) di sekitar kawasan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (Migas) Banyuurip, Blok Cepu, terus bertambah. Terbaru, balita berusia tiga tahun, Dreco Maulana Ichsan, asal Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meninggal dunia akibat gigitan nyamuk Aedes Aegepty.

Kepala Desa (Kades) Ringintunggal, Pandil, mengatakan, korban meninggal pada Senin (10/2/2015) kemarin, setelah sebelumnya sempat dibawa oleh orang tuanya ke Puskesmas Gayam untuk dilakukan pemeriksaan.

“Namun dokter setempat menyarankan untuk di rawat inap di rumah sakit karena telah ada tanda-tanda jenis penyakit tersebut,” ujarnya.

Dia mejelaskan, setelah itu korban dirujuk ke PKU Kalitidu. Selama beberapa hari kondisi korban ktitis hingga akhirnya meninggal dunia. Menurut dia, kasus DBD di wilayahnya sudah mewabah.

Sesuai data dari Bidan Desa Ringintunggal yang dia terima, terduga DBD ada sekitar empat orang dan mayoritas balita serta remaja. Diprediksi jumlah tersebut dapat semakin bertambah jika tidak ada upaya serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro untuk memberantas sarang nyamuk, abatisasi, serta sosialisasi atau himbauan kepada warga setempat.

Baca Juga :   Musim Hujan Datang, Waspadai Siklus Penularan DBD

“Kami berharap, adanya korban meninggal ini Dinkes segera turun tangan untuk mengatasi permasalahan serius ini, karena jika tidak maka dipastikan banyak warga terjangkit DBD,” ujar Pandil berharap.

Petugas DBD Kecamatan Gayam, Ilham Wahyu Utomo, membenarkan hal tersebut. Bahkan, kata dia, di wilayah Migas Blok Cepu ini banyak warga yang diduga kuat terjangkit DBD.

Di Desa Begadon, misalnya, kata dia, ada 34 warga yang mayoritas dibawah umur dan satu meninggal dunia. Sedangkan di Desa Ringintunggal ada 4 warga juga dinyatakan terduga DBD, dan di Dusun Tumlokorejo, Desa Gayam, ada dua warga yang dinyatakan suspect DBD.

Menurut Wahyu, penyakit DBD mulai mewabah pada akhir tahun 2014 lalu. Untuk itu, seiring bertambahnya korban jiwa akibat DBD kini pihaknya besama pemerintah desa terkait berupaya keras memberantas sarang nyamuk DBD agar tidak menular.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinkes terkait hal itu,” tandasnya.

Kasi Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bojonegoro, Whenny Dyah, menambahkan, kasus demam berdarah di wilayah Bojonegoro cukup tinggi. Kasus demam berdarah paling banyak ditemukan di Kecamatan Sumberejo, Kapas, Gayam, Bojonegoro, Kedungadem, dan Kanor. “Rata-rata penderitanya anak-anak mulai dari usia 5 tahun sampai 15 tahun,” ucapnya.

Baca Juga :   Laporkan Jika Pelayanan Kesehatan Buruk

Total keseluruhan penderita DBD pada tahun 2014 di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 151 kasus dan tiga orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah itu menurun dibanding pada tahun 2013 sebanyak 283 kasus.

Akibat mewabahnya penyaki ini, Bupati Bojonegoro, Suyoto telah menetapkan wilayahnya menjadi status kejadian luar biasa (KLB)demam berdarah dengue dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Bojonegoro Nomor 188/79/Kep/412.11/2015. (roz)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *