Strategi Bojonegoro Hadapi Merosotnya DBH Migas

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sangat konservatif dalam menetapkan pendapatan daerah untuk mengantisipasi rendahnya harga minyak dunia. Alasannya kondisi tersebut berpengaruh pada penerimaan dana bagi hasil (DBH) migas dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, saat puncak produksi nantinya serta gagal bayar pada pelaksanaan sejumlah pembangunan di Bojonegoro.

Untuk diketahui, sekarang ini harga minyak dunia terus merosot hingga menyentuh angka USD50 per barel dari semula USD 105.  

“Maksimal 50 persen dari estimasi pusat yang ditetapkan,” ujar Bupati Bojonegoro, Suyoto kepada suarabanyuurip.com.
 
Untuk mengantisipasi hal itu akan diprioritaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur yang paling relevan pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga akan menetapkan investasi keuangan, sebagai cadangan bila sewaktu-waktu ada kenaikan.

“Sehingga apabila harga turun, tetap tidak mengganggu belanja,” tandas Suyoto.

Suyoto menegaskan, akan melakukan langkah kongkrit dengan memutuskan P-APBD (Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk menampung semua perubahan tersebut termasuk perubahan dari pemerintah pusat.  Semula dalam Keputusan Presiden (Keppres), kata dia, Bojonegoro di estimasikan mendapatkan Rp 2,6 triliun, namun Bojonegoro memasang target Rp 1,1 triliun.

“Angka inilah yang perlu dihitung ulang dengan cermat dan saat ini masih dalam pencermatan,” pungkasnya.(rien)

Baca Juga :   DBH Migas Pendidikan 2018 Tak Terserap Rp43 Miliar

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *