SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Debit air Bengawan Solo di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo telah surut sejak dua hari terakhir. Tetapi masalah baru muncul di desa yang tidak mempunyai plengsengan penahan bantaran sungai.
Salah satu DAS Solo yang tidak mempunyai plengsengan penahan bantaran adalah Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Di desa ini, terlihat banyak sekali tanah longsor setelah tergerus ketika debit air bengawan tinggi selama seminggu sebelumnya.
“Nyaris sepanjang bantaran sungai ini tergerus Mas,” kata Kepala Desa (Kades) Kebomlati, Mutalib, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (24/2/2015).
Saat ini, tanah yang tergerus air bukan lagi milik wilayah Balai Besar Bengawan Solo (BBBS). Tetapi tanah milik warga dan sebagian Tanah Kas Desa (TKD). Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya usai musim penghujan ataupun banjir.
“Tiap tahun tambah, contohnya itu lapangan yang sekarang tinggal separuh dan terpaksa kita pindah,” ujar Mutalib, mengungkapkan.
Selain tanah longsor, debit air yang tinggi di Bengawan Solo juga menyisakan sampah ketika surut. Sampah ini berasal dari desa-desa yang ada di wilayah hulu sungai.
“Karena bantaran sungai di sini bersebelahan langsung dengan rumah penduduk, sampah tersebut kadang juga nyangkut di rumah-rumah,” terangnya.
“Makanya kita selalu berharap ada plengsengan di sini, supaya tanah kami tidak terus tergerus dan sampah tidak lagi nyangkut,” harapnya.
Di desa ini sendiri, sedikitnya 25 rumah warga yang awalnya berada di tepi bantaran sudah direlokasi sejak 18 tahun terakhir. Selain itu akses jalan desa sepanjang sekira satu kilometer juga sudah terputus karena air terus menggerus bantaran sungai yang tidak mempunyai plengsengan.(edp)