SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Sekira seratus lebih tenaga kerja (Naker) proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (Engineering Procurement and Constructions/EPC) Banyuurip, Blok Cepu, terlantar tak bisa masuk lokasi proyek, Selasa (24/2/2015). Penyebabnya, pintu masuk lokasi proyek telah ditutup kontraktor EPC sejak pukul 06.00 WIB.
Akibatnya, naker baik dari EPC-1 maupun EPC-5 Banyuurip bergerombol di sekitar kampung tunnel yang terletak di Dusun Puduk, Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Perberlakuan penutupan pintu ini sebenarnya sudah disosialisasian oleh kontraktor EPC-1 dan PT Tripatra – Samsung, dan kontraktor EPC- 5 Banyuurip, PT Hutama Karya – Rekayasa Industri (HK-Rekind) pada 14 Pebruari 2015 lalu. Yang isinya, jam kerja akan diberlakukan bahwa naker harus datang sampai dilokasi proyek pada jam 06.00 WIB.
Namun karena kedatangan para naker itu diatas jam yang sudah ditentukan, mereka tak bisa masuk ke lokasi proyek.Â
“Memang pada tanggal 14 Pebruari 2015 sudah disosialisasikan. Bahwa jam enam lebih semenit naker baru nyampai lokasi sudah tidak boleh masuk,” kata Agus salah satu naker EPC dari CV Karya Sudarsono (KS) kepada suarabanyuurip.com, Selasa (24/2/2015).
Agus mengakui, jika sebelumnya sudah ada sosisalisai pemberlakukan jam masuk pukul 06.00 WIB. Namun, peraturan belum diberlakukan secara maksimal lantaran pintu pagar masih dalam pengerjaan belum jadi.
“Karena pintu masuk belum jadi, dan masih dalam pengerjaan perusahaan masih memberikan toleransi. Tetapi belum ada lagi konfirmasi kapan peraturan itu diterapkan sekarang kok sudah ditutup. Akibatnya banyak naker yang terlantar diluar lokasi tidak bisa masuk kerja karena telambat 10 menitan,” ujar Agus, mengungkapkan.Â
Eko Hardiyanto, naker Swadaya Graha, subcontraktor Tripatra, mengaku, belum mengetahui adanya pemberlakuan penututpan lokasi pada pukul 06.00 WIB. Karena biasanya pukul 06.15 menit tidak ada penutupan pintu masuk lokasi.
“Saya datang nyampai di kampung tunnel jam 6.03 pintu sudah ditutup. Jadi saya dan teman-teman lebih dari seratus orang tidak bisa masuk. Saya harap kalau ada peraturan baru perusahaan harus ada sosialisasi lagi agar tidak ada kejadian seperti ini,” sambung Hardiyanto. (sam/un)