SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
 Blora – Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyiapkan anggaran Rp700 juta untuk menormalisasi Kali Putat di wilayah Kecamatan Cepu. Normalisasi ini bertujuan mengurangi banjir yang selalu melanda Cepu setiap musim penghujan.
Hanya saja, normalisasi yang akan dilakukan tidak menyeluruh sepanjang Kali Putat. Melainkan hanya bagian yang dianggap penting dan dangkal.
Sebagaimana diketahui, Kali Putat selama ini menjadi biang kerok banjir di wilayah Cepu. Karena kali yang memisahkan antara Kelurahan Cepu dengan Kelurahan Balun tersebut tidak pernah dinormalisasi.
Sehingga jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi airnya meluber hingga ke rumah warga dan mengganggu ruas jalan utama di Kecamatan Cepu yakni area Taman Seribu Lampu.
Camat Cepu, Mei Naryono, memastikan tahun ini akan dilakukan normalisasi Kali Putat. Normalisasi kali dengan lebar empat meter tersebut akan menghabiskan anggaran 700 juta lebih.
“Untuk sementara akan menjadi perhatian adalah Kali Putat yang melintasi belakang SMA PGRI Cepu dan RT 1 RW 12 Kelurahan Balun. Mulai dari jembatan utama yakni Jalan Ronggolawe dan Jalan RSU sampai dengan jembatan Jalan Taman Siswa. Kira-kira panjangnya hapir 1 Kilo meter,†kata dia, menjelaskan.
Mei mengaku, telah melakukan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dalam hal ini yang memengang tanggung jawab. Normalisasi yang akan dilakukan adalah dengan mengeruk dan membersihkan sumbatan yang menghambat aliran air.
“Mengenai waktu pastinya, saya belum tahu. Ya jelas tahun ini dilaksanakan,†tegasnya.
Munarto, warga RT.01, RW 12 Kelurahan Balun, menuturkan, pendangkalan Kali Putat menjadi pemicu parahnya banjir bandang yang selama ini terjadi jika terjadi hujan deras. “Selama ini kali tidak pernah dikeruk. Kalau banjir datang, air bisa mencapai ketinggian dada orang dewasa,†katanya.
Dia menunjukkan, kali yang juga dilintasi jembatan taman seribu lampu tampak kumuh dan minim jalur lintasan air. Pasalnya selain pendangkalan, ternyata juga banyak bangunan liar permanen berdiri sehingga mempersempit aliran air.
“Jika meluber arusnya deras sekali, mampu merobohkan pagar tembok,†ujar Munarto menceritakan pengalamannya dua tahun lalu.
Karena itu, warga berharap agar Kali Putat segera mendapat perhatian untuk dilakukan normalisasi dan melakukan penertiban bangunan liar yang dianggap menjadi penghambat aliran air. “Sehingga kali bisa berfungsi sebagaimana mestinya,†harapnya.
Untuk diketahui, hujan deras dan angin kencang yang terjadi di wilayah Kecamatan Cepu pada Kamis (26/2/2014) lalu, telah mengakibatkan banjir. Diduga banjir terjadi akibat saluran air tidak mampu menampung derasnya air hujan yang turun.
Komandan Satuan Penanggulangan Bencana (Satgana) Kecamatan Cepu, Anton Moedji, menjelaskan, banjir genangan terjadi di kawasan Jalan Stasiun Kota Ngareng, Taman Seribu Lampu dan Tuk Buntung. Namun tak berapa lama banjir sudah surut.(ams)