SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Perajin atau pembuat tempe di Kabupaten Tuban, Jawa Timur merugi lantaran harga bahan baku utama berupa kedelai, mengalami kenaikan harga sejak sepekan terakhir.
Sekarang harga kedelai mencapai Rp8.000 perkilogram. Padahal sebelumnya harga kedelai hanya sekitar Rp6.000 perkilogram.
“Sekarang empet–empetan (menekan produksi) Mas,â€jelas Tri Wulyani, pembuat tempe asal Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Rabu (11/3/2015).
Tri Wulyani mengatakan, sekarang hanya mampu melakukan produksi sekitar 12 kwintal saja. Sebelum ada kenaikan kedelai usaha miliknya bisa memproduksi sampai 18 kwintal bahan baku untuk dijadikan tempe.
Akibat penurunan produksi ini, laba bersih pabrik tempe ini sekarang jarang melebihi Rp100 ribu. Padahal kalau normal, keuntungan yang diperoleh kadang sampai dua kali lipat dari keuntungan sekarang.
“Soalnya bahan baku naik, modal juga terbatas,â€jelsnya.
Di Kabupaten Tuban, pembuat tahu ataupun tempe banyak yang mempergunakan kedelai impor. Karena kedelai impor mempunyai biji yang lebih besar dan berwarna putih. Berbeda dengan kedelai lokal yang bijinya cenderung kecil dan berwarna agak kehitaman.
“Kedelai impor lebih menguntungkan karena biji lebih besar dan warnanya putih. Banyak yang pakai kedelai ini,â€kata Sholikin, pembuat tempe yang lain.
Sementara saat ini kedelai impor cukup sulit ditemui di pasar dan harganya mahal. Karena terkena dampak akibat menguatnya dollar dan turunnya nilai tukar rupiah. (edp)