SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Di tengah upaya penataan tata kelola sumur tua di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ada harapan besar yang terbesit di benak masyarakat setempat. Mimpi untuk menjadikan kawasan sumur peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu, menjadi tujuan wisata lokasi penambangan minyak yang belum pernah ada di Indonesia.
Camat Kedewan, Moch Tarom, mengatakan, butuh biaya besar untuk merubah wajah sumur tua yang konon dikatakan “seram”, karena banyaknya para penambang yang jumlahnya mencapai ratusan. Bahkan, kegiatan penyulingan minyak mentah yang sering dilakukan karena “terpaksa” membuat stempel berbahaya semakin nyata.
“Banyak yang bilang masuk sumur tua bahaya, karena penambangnya begini-begitu. Tapi semuanya tidak benar, karena mereka orang-orang asli sini. Mereka seperti kita semua, sama, baik-baik dan ramah,” kata Tarom.
Dia menyampaikan, selama ini tidak tahu-menahu bagaimana regulasi adanya investor yang masuk di lokasi sumur tua, seperti salah satunya di Dusun Kaligaling. Bahkan, masyarakat menyambut positif adanya pengeboran sumur karena merekrut banyak tenaga kerja, dan perbaikan akses jalan.
“Kami selaku Muspika, tidak tahu kalau itu ilegal. Karena, semua kegiatan sudah ditangani KUD yang dianggap sah milik Pertamina EP,” tukasnya.
Dia berangan-angan, sumur tua dengan segala bentuk pelanggaran, dan carut-marut lainnya bisa berubah menjadi sebuah tempat yang indah dan mendidik. Bahkan, niatnya untuk menjadikan wisata tersebut diharapkan mendapat dukungan dari semua pihak.
“Semoga, permasalahan di sumur tua segera terselesaikan. Masyarakat bisa mencari nafkah dengan tenang dan mimpi saya yang mewakili semua segera terwujud,” pungkasnya.(rien)