Berharap Ada Antisipasi Dampak Flare Banyuurip

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Warga sekitar Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, mengaku khawatir dengan mulai menyalanya flare di tapak sumur (Wella Pad) B sejak beberapa hari ini. Mereka khawatir menyalanya flare itu dapat memunculkan bau tak sedap seperti di Gas Oil Separation Plant (GOSP) Banyuurip beberapa tahun silam.

“Ya khawatir mas. Apalagi dulu bau seperti telur busuk dari flare GOSP juga sampai sini,” kata Bambang, warga Desa Brabowan kepada suarabanyuurip.com, Senin (23/3/2015).

Menurut dia, flare baru itu menyala sejak tiga hari lalu. ” Ingat saya Sabtu tanggal 17 Maret 2015 kemarin, mulai nyala,” ujar Bambang.

Warga berharap, pihak terkait untuk mengantisipasi agar kejadian di GOSP beberapa tahun lalu tidak terluang kembali. “Semoga saja tidak terjadi lagi,” sambung Suyanto, warga Brabowan lainnya.

Sementara itu, dari sosialisasi perubahan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) tentang perubahan flaring Banyuurip oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan pihak terkait, ada dua dusun terdekat yang diperkirakan terkena dampak adanya flaring itu. Yakni warga di Dusun Samben dan Ledok, Desa Mojodelik. Bukan Desa Brabowan.

Baca Juga :   PT TGE Diminta Segera Sediakan Penampung Limbah

Selain itu, sesuai pengamatan di lapangan, flaring di tapak sumur Pad B ini jauh dari perkampungan warga. Yakni berjarak sekira 1,4 kilo meter dari dua dusun terdekat. Jarak ini berbeda dengan flare di GOSP yang berada dekat dengan perkampungan, yakni hanya beradius kurang dari satu kilo meter. Sehingga sangat kecil kemungkinan adanya flaring baru itu akan berdampak kepada warga.(sam)

 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *