SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pertanian dan pertambangan menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Â Hal itu dapat dilihat dari pencapaian harga konstan sektor pertanian dari Rp 2,4 triliun meningkat menjadi menjadi Rp 7,3 triliun pada 20114. Befitu juga dengan pertambangan juga mengalami kenaikan.
Bupati Bojonegoro, Suyoto, mengatakan, yang selalu menjadi pencermatan pemerintah kabupaten (Pemkab) adalah pertumbuhan yang berkualitas yaitu memenuhi prinsip keadilan. Oleh karena itu, pertanian menjadi salah satu visi dan misi namun juga mengembangkan sektor yang lain.
“Pada sektor hotel dan restaurant tahun 2014 juga mengalami peningkatan yang cukup bagus,” ujarnya pada rapat paripurna penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPj) Bupati 2014 di Ruang Paripurna DPRD setempat.
Dia menjelaskan, jika dilihat pertumbuhan ekonomi makro Bojonegoro di bandingkan dengan di satukannya pertambangan migas maka masih di angka 5,86 persen karena pendapatan migas tidak sepenuhnya di tangan pemkab. Namun, kalau non migas dipisah maka pertumbuhan mencapai 7,78 persen yang artinya lebih tinggi dari nasional dan jawa timur.
“Kalau pertambangan migas tumbuh, maka hasilnya tidak akan langsung dinikmati rakyat. Tapi, kalau yang non migas, yang riil itu akan langsung dinikmati rakyat kita,” tegasnya.
Suyoto menegaskan, jika pendapatan per kapita masyarakat mengalami kenaikan. Sehingga konsekuensi yang didapat adalah tingkat kemiskinan menurun. Sedangkan dari sisi inflasi tahun lalu, lanjut dia, lumayan tinggi terutama kebutuhan pokok sejak ada kenaikan harga BBM.
Menurut dia, ada yang menjadi perhatian semua adalah penurunan nilai tukar petani. Hal ini dikarenakan, biaya air pada tahun 2013 naik, kemudian khusus masa panen kedua ini penetapan harga pokok penjualan (HPP) oleh Presiden terlambat. Sehingga, para petani yang seharusnya sudah menjual dengan hpp baru, menggunakan hpp lama ternyata Bulog tidak segera membelinya.
“Meskipun kita berkoordinasi mati-matian dengan Bulog, ternyata belum ngejar,” imbuhnya.
Sementara itu, lanjut dia, indeks pembangunan manusia (IPM) mengalami kenaikan. Namun kenaikannya  ada masalah serius yaitu rendahnya indeks daya beli. Artinya, pendapatan orang kampung harus ditingkatkan. Dan solusinya tidak bisa lewat pertanian, tetapi masuknya industri ke pedesaan. Maka, harus ada dorongan untuk hal itu.
“Oleh karena itu, kita tengah mengeluarkan Perbub insentif investasi buat siapa saja yang membangun ekonomi pedesaan,” tegasnya.
Bupati Suyoto juga menyatakan, adanya penurunan pada angka pengangguran karena adanya proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Namun demikan, ada peringatan jika proyek tersebut selesai maka jumlah pengangguran juga meningkat.
“Oleh sebab itu, bagaimana supaya PT Pupuk Kujang dan lainnya untuk segera beroperasi agar menampung semua tenaga kerja tersebut,” imbuhnya. (rien)