Perhutani Cepu Mulai Garap Sektor Peternakan

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora- Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai melirik sektor peternakan untuk mendukung swasembada daging nasional. Konsep yang diterapkan adalah dengan sistem silvopasture sebagai salah satu alternatif teknologi untuk meningkatkan produktifitas ternak.

Diharapkan dengan konsep tersebut Indonesia mampu mewujudkan swasembada daging pada tiga tahun kedepan.

Kepala Pusat Penetian dan Pengembangan (Puslitbang) Perhutani Cepu, Suwarno, menjelaskan, Silvopasture atau mamadukan antara peternakan dan kawasan hutan, dalam hal ini hutan dijadikan sebagai lumbung daging, bisa segera dilakuan untuk mendukung program swasemda daging.

Menurut Suwarno, setalah kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu, hutan sebagai lumbung daging mendapat respon positif. Sehingga swasembada daging bisa dilakukan dalam jangka waktu tiga tahun kedepan, jika secara intensif memanfaatkan hutan terutama di sekitar desa.

“Pengembangan ternak di dalam hutan dapat dilakukan setelah kawasan hutan tersebut tidak menghasilkan palawija,” katanya saat diskusi penjaringan mitra kerjasama pengembangan Silvopasture, Selasa (7/4/2015).

Dirinya tidak memungkiri, selama ini memang ada larangan pengembangbiakan ternak di kawasan hutan karena bisa merusak tanaman jati dan mengakibatkan pemadatan. “Namun saat ini, sudah waktunya merubah ancaman menjadi peluang,” tandasnya.

Baca Juga :   Stok Cabai Rawit Menipis

Dari hasil penelitian dan kajian yang dilakukan oleh Puslitbang Perhutani, yaitu dengan melakukan praktik gundukan sekitar tanaman jati serta drainase, bisa menjadi pengaman tanaman. Dengan luasan hutan 500.000 hektar yang dikelilingi 877 desa, Suwarno meyakini sistem Silvopasture sebagai pendukung kedaulatan daging bisa terwujud.

Pada kesempatan itu, Irdika Mansur, Peneliti dari Depertemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Bogor, mengungkapkan, model pengembangan Silvopasture untuk mendukung kedaulatan daging bisa diterapkan di Indonesia. Mengingat, Indoinesia memiliki potensi cukup besar untuk mengembangkan peternakan dikawasan dibanding dengan negara lain.

Kondisi Iklim di Indonesia, lanjut Irdika, mendukung tumbuh suburnya tanaman pakan ternak sepanjang tahun. Sehingga produkstivitas tanaman pakan ternak lebih tinggi untuk daya dukung peternakan di Indonesia.

Dengan luas hutan produksi 1,2 juta Hektar (Ha) di Pulau Jawa, lanjut dia, merupakn potensi yang sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan termasuk daging.

Irdika menilai, masyarakat jawa termasuk meraka yang tinggal di sekitar hutan secara umum sudah terbiasa dan terampil dalam bertani dan beternak. Hal ini menjadi modal penting untuk mengembangkan Silvopasture di hutan. “Perhutani akan mudah mendapatkan pekerja atau mitra kelompok tani hutan dalam mengembangkan peternakan dengan sistem Silvopasture,” kata dia.

Baca Juga :   Pemdes Ring 1 Migas Sukowati Gelar Upacara HUT ke-78 RI

Sementara itu, Na’im, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gajahmada Mada, melihat potensi dan kondisi hutan yang ada di Kabupaten Blora, lebih cocok untuk Silvopasture pada ternak kambing. “Lebih cocok kepada Kambing, bukan Sapi,” kata dia, usai memberikan materi.

Namun demikian, lanjut Na’im, Blora sebagai penghasil sapi nomor 1 di Jawa Tengah, bisa terus diperthankan. “Tapi bisa juga Silvopasture di Blora, diterapkan pada sapi,” kata Pria asli Cepu ini.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *