PEMANDANGAN asri terlihat sejak masuk Gang VII, Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Berjejer aneka tanaman dengan wadah pot di setiap sudut rumah. Nyaris tidak ada sampah sedikitpun tercecer di pinggir jalan.
Pemandangan ini mulai terlihat sejak satu tahun terakhir. Bahkan dengan waktu yang tidak terlalu lama, kampung ini sudah masuk menjadi nominasi Kampung Indah Berseri (KIB) Kabupaten Tuban dengan nilai yang cukup memuaskan.
Berserinya kampung ini, berawal dari rasa risih melihat tumpukan sampah di laut yang membuat membuat, Susanawati (39), warga setempat berpikir bagaimana mengatasinya. Terlebih kebiasaan ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun.
“Awalnya saya risih melihat banyak sampah yang dibuang ke laut,†kata Susana, sapaan akrab perempuan ini kepada Suarabanyuurip.com di kediamannya.
Tetapi siapa sangka, dari kegelisahan ini muncul ide membuat bank sampah. Satu komunitas yang dia gagas dan mulai menunjukkan eksistensinya. Komunitas yang lahir dari kemauan masyarakat yang peduli dengan lingkungan. Bukan bentukan dari program pemerintah ataupun perusahaan-perusahaan besar yang ada di Tuban.
Susana membuat bank sampah karena banyak masyarakat yang awalnya menentang pendapatnya. Karena menganggap sampah merupakan barang yang menjijikkan, dan praktis apabila dibuang ke laut.
“Bagaimana caranya? Saya kemudian baca di internet ada istilah bank sampah dan saya tertarik membuat itu,†kenang Susana.
Merintis Bank Sampah, tidak semudah membalik telapak tangan. Terlebih dengan pengetahuan dan peralatan penunjang yang nyaris tidak ada.
“Saya membuka internet, mengunjungi kampung yang ada bank sampahnya, sampai keluar masuk Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tuban, dan instansi pemerintahan untuk mendapatkan informasi ini,â€kata ibu tiga anak ini menjelaskan.
“Bank Sampah ini resmi didirikan pada tanggal 26 April 2014 lalu,†lanjut Susana.
Jatuh bangun Susana merintis bank sampah ini. Selain menggerakkan keinginan masyarakat supaya bisa berpartisipasi, juga memikirkan peralatan penunjang seperti pengadaan tempat sampah yang tidak sedikit.
“Akhirnya saya kasih tempat sampah di depan rumah warga, saya bilang kepada warga kalau tempat sampah ini dibayar tidak pakai uang. Tapi pakai sampah,†kata Susana.
Lambat laun usaha Susana banyak diikuti warga. Warga yang bermukim di RT IV RW III ini mulai ikut mengumpulkan sampah dan menyimpannya di Bank Sampah. Belum sampai satu tahun, Bank Sampah ini mulai berkembang dan tidak ada lagi warga yang membuang limbah di laut.
Bersih Bernilai Ekonomis
“Setelah Bank Sampah ini jalan, akhirnya kita sadar kalau sampah ternyata mempunyai nilai ekonomi kalau dikelola dengan baik,†jelas Susana.
Hasil Bank Sampah ini sedikit banyak berdampak pada pemasukan ibu-ibu yang ada di lingkungan ini. Sekitar 75 persen hasil sampah dijual ke pengepul sampah dan 25 persen didaur ulang menjadi kerajinan yang layak jual.
“Yang lebih penting sekarang lingkungan jadi bersih dan tidak ada yang membuang sampah kelaut,â€jelasnya.
Per bulan dari penjualan sampah di Bank Sampah ini mencapai 400 sampai 500 ribu rupiah. Semua uang ini masuk ke tabungan dan akan diambil oleh masyarakat sekitar minimal setelah disimpan selama satu tahun.
Sementara sampah lain, seperti plastik bekas pembungkus snack dikelola kembali oleh komunitas Bank Sampah ini menjadi barang kerajinan bernilai guna. Ada tujuh orang yang khusus mengubah sampah menjadi aneka kerajinan tangan dan laku dijual kembali.
“Kalau untuk kerajinan lebih banyak laku dari media sosial, kemudian ada juga pesanan untuk perusahaan ataupun dari beberapa SKPD Tuban,â€kata Susana.
Susana tidak pernah berpikir Bank Sampah yang dia kelola mendatangkan nilai ekonomis. Semua dia bangun karena keinginan menyelamatkan lingkungan.
“Bank sampah ini hanya strategi kecil, yang paling penting peran serta masyarakat untuk mencintai lingkungan,†tandasnya.
Sekarang perintis Bank Sampah ini mulai diminta untuk menjadi narasumber pembuatan bank sampah. Bahkan dia mulai mempunyai binaan dari kampung tetangga untuk membuat kegiatan yang sama. Tak jarang ada beberapa orang utusan dari Pemkab Tuban ataupun kelurahan yang datang untuk ikut membantu mengolah sampah ini menjadi nilai ekonomis. (edy purnomo)