DBH Migas Meningkat, Gedung Sekolah Masih Rusak

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Meskipun perolehan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi ( DBH Migas) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus bertambah, namun tak menjamin infrastruktur pendidikannya memadai. Sejumlah gedung sekolah, khususnya Sekolah Dasar (SD) masih banyak yang sudah tidak layak untuk proses belajar mengajar.

Jika sebelumnya gedung SDN Ngulanan II di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, kini  di SDN Ledok Wetan 1, Kecamatan Bojonegoro, yang kondisinya memprihatinkan.

Dari panatauan, dari 12 ruang di gedung SDN tersebut, tujuh di antaranyarusak parah. Sedangkan lima gedung lainnya baru direnovasi pada bujan Januari 2014 lalu. Tiga diantaranya digunakan untuk kelas I dan kelas VI serta kantor guru.

Kerusakan itu terlihat pada atap ruang kelas yang mulai ambrol. Sehingga saat hujan terjadi bocor di sana-sani.  Selain itu, bau menyengat dari selokan menambah  kondisi sekolah yang berada di tengah kota itu terasa tak nyaman.

Namun hingga saat ini tujuh gedung yang rusak itu masih digunakan untuk proses belajar mengajar sebanyak tiga ruang, sedangkan empat ruang lainnya di biarkan mangkrak. Dua gedung digunakan untuk kelas IV dan kelas V dan satu ruang untuk koperasi siswa.

Baca Juga :   Dukung Tindakan Tegas Rektor Unirow

Dikhawatirkan, jika gedung itu tak segera diperbaiki dapat mengancam keselamatan para siswa dan guru. Terlebih sekarang ini intensitas hujan yang disertai angin kencang masih kerapa menyapa wilayah Bojonegoro.

“Bangunan yang rusak itu dibangun sejak 1986,” kata Kepala Sekolah SDN Ledok Wetan 1,  Lilik Murniati, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (21/4/2015).

Dia mengaku, sudah mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bojonegoro untuk segera memperbaiki gedung yang rusak. Surat permohonan tersebut diajukan pada tahun 2012 lalu.

“Pada awal saya menjabat disini langsung mengajukan bantuan untuk pembangunan gedung yang rusak,” ujarnya kepada Suarabanyuurip.com.

Dinas Pendidikan, kata dia, sudah menanggapi surat permohonan bantuan pembangunan gedung ruang kelas yang rusak itu.  Rencananya, gedung yang rusak itu akan dibangu pada bulan April 2015 ini. Pembangunan akan dilakukan sebanyak enam gedung.

“Beberapa kali petugas DPU (Dinas Pekerjaan Umum) dan Diknas sudah kesini,” ujar Lilik, mengungkapkan.

Pembangunan gedung sekolah itu, menurutnya, menggunakan Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas Bumi (Migas). Namun Lilik mengaku tidak mengetahui berapa jumlah dana yang akan digunnakan untuk membangun enam gedung disekolahnya itu.

Dia menyatakan, jumlah siswa di SDN 1 Ledok Wetan pada tahun 2015 sebanyak 74 siswa. Idealnya, kelas 1 hingga kelas VI sebanyak 180 siswa. Minimnya jumlah siswa itu, kata dia, diduga karena bangunan sekolah yang menurut orang tua siswa sudah tidak layak lagi. Sehingga, kalau mau menyekolahkan diSDN 1 Ledok Wetan orang tua siswa pasti enggan.

Baca Juga :   Siswa SMKN 1 Singgahan Terima Beasiswa Kuliah di Luar Negeri

Salah seorang siswa Kelas V, Arya mengaku kawatir saat melakukan proses belajar mengajar di dalam kelas. Bahkan, takut jika sewaktu-waktu atap gedung ruang kelas yang ditempatinya itu ambrol.

“Takut kalau sewaktu-waktu ambrol,” ujarnya usai mengikuti pelajaran, Selasa (21/04/2015).

Masih adanya kondisi gedung sekolah yang rusak ini berbanding terbalik dengan perolehan DBH Migas untuk Pendidikan di Kabupaten Bojonegoro yanh terus meningkat. Perolehan DBH Migas Pendidikan pada tahun 2010 sebesar Rp2 miliar, tahun 2011 Rp6 miliar, tahun 2012 sebesar Rp14 miliar, tahun 2013 turun sebesar Rp13 miliar dan tahun 2014 meningkat lagi menjadi Rp20 miliar.

Pembagian DBH Migas ini sesuai dengan Undang-undang nomor 33 tahun 2004 Pasal 20 ayat 2, yakni DBH Migas 0,2% khusus diperuntukkan untuk menambah alokasi anggaran pendidikan dasar.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *