Puluhan Hektar Lahan Pertanian Tergerus Bengawan Solo

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Akibat longsor tebing sungai Bengawan Solo di Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak hanya berdampak terhadap rumah warga. Tapi juga lahan pertanian desa setempat.

Sejumlah warga harus kehilangan sawah atau ladang yang berada di tepi sungai yang membentang dari Solo sampai Gresik tersebut.  Salah satunya sawah milik Budiono (40), warga desa setempat. Kurang lebih seperempat sawahnya habis terkena longsor.

”Dulu jaraknya dengan sungai bengawan solo sekitar 10 meter. Sekarang sudah hilang,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, warga hanya bisa pasrah melihat sawah yang dijadikan sebagai mata pencarian mereka hilang terkikis air sungai bengawan solo. ”Harus bagaimana lagi, karena kondisinya seperti itu. Kami juga tidak tahu harus menuntut kepada siapa,” ucap Budiono.

Luas lahan pertanian yang tergerus mencapai puluhan hektar. Bahkan, jarak antara sawah dengan bibir sungai tinggal satu meter.  “Kalau jumlah persisnya tidak tahu. Tapi banyak yang sudah kehilangan tanahnya,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Kedungbondo, Moch. Ridwan, mengaku, banyak lahan pertanian warga yang hilang terkena longsor. Tapi dia belum mengetahui jumlah persisnya karena tidak ada laporan dari warga.

Baca Juga :   Pimpinan STEM Akamigas Diganti

“Memang ada lahan pertanian warga yang terkena longsor sedikit demi sedikit. Tapi luasan yang sudah hilang belum tahu,” sambung Ridwan.

Ridwan berharap agar pemerintah terkait segera membangun tanggul di tepi Sungai Bengawan Solo agar tidak semakin banyak lahan pertanian milik warga yang hilang. “Semoga segera dibangun tanggul. Informasinya dulu seperti itu, tapi sampai sekarang belum berjalan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Operasi Pengairan UPT Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Bojonegoro, Mucharom, mengatakan, hampir seluruh titik daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo yang melintas di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik rawan terjadi longsor.

Longsornya wilayah DAS Bengawan Solo, kata dia, disebabkan karena trend air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu tidak stabil, ditambah dengan kondisi tanah yang labil. Longsor paling banyak terjadi di tikungan luar sungai. “Semua DAS bisa dibilang rawan longsor,” ujarnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *