SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Keberhasilan program yang dilaksanakan pemerintah salah satunya dipengaruhi validasi data. Sebab dengan data yang akurat program yang digulirkan akan tepat sasaran.
Namun, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, validasi data baru dilakukan. Yakni tentang jumlah anak putus sekolah. Pendataan itu untuk mendukung pelaksanaan program gerakan desa sehat dan cerdas (GDSC).
Sesuai pendataan yang dilakukan Dinas Pendidikan Bojonegoro jumlah anak putus sekolah di wilayahnya yang diperoleh dari berbagai sumber seperti Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan, Badan Pusat Statistik (BPS), PKK, dan data pokok pendidikan (Dapodik) berbeda-beda. Mirisnya lagi, Â jumlah angka putus sekolah cukup fantastis.
Kepala Bidang Pendidikan SMP/SMA/SMK, Puji Widodo, mengatakan, dari data tersebut, jumlah anak putus sekolah di antaranya tingkat SD/MI sebanyak 10.000 anak, SMP/MTs sebanyak 11.000 anak, sementara tingkat SMA/MA sebanyak 21.000 anak.
“Kami juga kaget saat menerima data tersebut pada bulan April kemarin,” kata Puji Widodo kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (8/5/2015).
Dia menyatakan, jumlah tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya. Karena saat ini Dinas Pendidikan tengah membentuk tim untuk melakukan validasi data di lapangan.
“Kira-kira dua minggu hasilnya bisa segera keluar,” lanjutnya.
Pria berkacamata minus ini mengungkapkan, hingga kini tidak mempercayai jumlah anak putus sekolah yang di data oleh beberapa instansi itu mencapai puluhan ribu anak.
“Kami tidak pernah melakukan pendataan untuk anak putus sekolah,” tegas Puji.
Dia menyatakan, saat ini pihaknya memaksimalkan tiga program dari Bupati Suyoto untuk menindaklanjuti anak-anak putus sekolah tersebut. Di antaranya program ayo sekolah, anti droup out, dan peningkatan kualitas pendidikan.
“Bahkan, menurut rencana Bupati Suyoto akan menaikkan jumlah beasiswa dari Rp 500.000 ke Rp 2.000.000,” pungkas Puji.(rien)