SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Pergolakan Reformasi untuk menumbangkan rezim Orde Baru hingga menyebabkan 4 mahasiswa kampus Tri Sakti tewas tertembak pada 12 Mei tahun 1998 lalu diperingati sejumlah jurnalis yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Belasan wartawan melakukan tabur bunga di depan Monumen Pancasila, Jalan Re Martadinata, Tuban. Tidak hanya menaburkan bunga, mereka juga membawa sejumlah foto empat mahasiswa Tri Sakti yang tewas dalam demonstrasi penggulingan Presiden Soeharto.
Para wartawan ini menyebut, usai adanya Reformasi informasi yang menjadi hak publik lebih mudah diakses. Serta tidak berlaku ancaman ala militer yang kerap menghantui para jurnalis ketika melakukan peliputan berita seperti sebelum tahun 1998.
“Kita ingin mengingatkan, kalau belasan tahun lalu menjadi tonggak Reformasi di Indonesia,â€jelas salah satu wartawan, Khusni Mubarok, kepada Suarabanyuurip.com.
Momen tewasnya para mahasiswa ini dinilai mulai dilupakan masyarakat. Bahkan para mahasiswa sendiri, termasuk di Kabupaten Tuban.
“Kita menolak lupa kalau ada mahasiswa yang pernah memperjuangkan era Reformasi dan tewas tertembus peluru. Perjuangan yang membawa kita sampai pada era dimana semua warga negara juga bebas menyatakan pendapatnya,â€jelas Saiful, jurnalis lain menimpali.
Insan pers dari berbagai media ini juga berharap kasus penembakan ini bisa diusut tuntas. Karena semakin lama semakin bias dan seperti hilang ditelan masa.
“Kita juga menuntut supaya hukum ditegakkan. Kasus ini tidak boleh hilang dan harus diselesaikan,â€tandasnya.
Selain itu, para wartawan juga mengirimkan doa kepada para korban. Yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
Usai melakukan aksi. Para jurnalis ini membagikan selebaran dan membubarkan diri dengan tertib.(edp)