Memberi Ruang Kreatifitas Pemuda

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro -  Komunitas penggerak baca dan karya, Langit Tobo, menggelar beberapa kegiatan di antaranya pemutaran film, stand up comedy, dan musikalisasi puisi di Gedung Karang Taruna Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (14/5/2015).

Biasanya, komunitas di wilayah Barat Bojonegoro itu sering mengadakan kajian keilmuan yang terkesan serius. Namun, kali ini acara diisi hiburan penuh, namun tetap mendidik.  

Dalam kegiatan itu, diawali pemutaran film berjudul Hope. Film dokumenter dengan durasi 50 menit itu menceritakan tentang permasalaan politik dan sosial di Indonesia sejak zaman Orde Baru hingga Reformasi.

Di dalam film itu diceritakan, sejumlah anak-anak muda menanyakan tentang nasionalisme. Kemudian mereka tergerak hatinya untuk memberikan sumbangsih dan akhirnya mampu mengharumkan nama bangsa melalui karya kreatifnya.

“Dari film ini diharapkan mampu memberikan semangat dan contoh bagi pemuda di sini,” kata Ketua Komunitas Langit Tobo, Wahyu Riskiawan, kepada suarabanyuurip.com.

Acara selanjutnya yang cukup menarik yakni penampilan stand up comedy Bojonegoro. Fajar, anggota stand up comedy Bojonegoro, misalnya, tampil sangat percaya diri membawakan lawakan-lawakan khasnya.

Baca Juga :   Dukung Promosi Wisata Alam Desa Klino, Runner KKNTK-21 Unigoro Ikuti Fun Trail Run Gunung Pandan

Fajar banyak menyindir tentang kondisi jalan dan infrastruktur di Bojonegoro yang buruk dengan joke segar. Tak pelak tawa pun pecah berkali kali diiringi tepuk tangan dari peserta yang hadir.

Penampilan anggota stand up comedy lainnya, Nasruli Chusna, juga tidak kalah seru. Guyonan khas anak-anak muda dibawakannya dengan penuh ekspresi dan segar. Meski siang hari itu terasa sangat panas, tapi mereka begitu menikmati hiburan yang ditampilkan.

Selain penampilan stand up comedy, ada juga penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh jurnalis muda Tulus Budi Susanto, dan Dita Afuzal Ulya. Diiringi dengan lantunan musik nan merdu, keduanya membacakan puisi penggugah jiwa yang mampu menghipnotis, dan larut dalam imajinasi.

Penampilan yang disuguhkan ini mampu membuka mata, jika selama ini Bojonegoro lebih dikenal sebagai daerah penghasil migas dan industri, namun geliat karya masyarakatnya tidak dikenal.

“Kami ingin menyediakan ruang bagi anak-anak muda untuk berkreatifitas dengan karya. Dengan begitu, ke depan industri kreatif di Bojonegoro juga akan dikenal. Ibaratnya, Bojonegoro juga ingin seperti Bandung yang dikenal karena karya kreatifnya,” tegas Riski-sapaan akrab Wahyu Riskiawan.

Baca Juga :   Segera Bangun Gedung Akademi Komunitas

Menurutnya, komunitas Langit Tobo mendorong anak-anak muda di Bojonegoro bisa menelurkan karya berupa karya tulis, karya seni, hingga kreatifitas berupa produk kaos dan lainnya yang bisa eksis.

“Dengan demikian, nantinya masyarakat Bojonegoro tidak terlalu tergantung dengan industri minyak melainkan bisa mandiri dengan karyanya,” pungkas Riski.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *