Indonesia Terancam Jadi Importir Energi

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Malang – Ketergantungan Indonesia terhadap minyak sebagai sumber energi masih sangat tinggi dan bahkan tak sebanding dengan produksi yang dihasilkan. Saat ini, tingkat konsumsi minyak mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan jumlah produksi hanya 800 ribu Bph.

“Akibatnya sejak 2004 lalu negara kita sudah menjadi importir,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Gamil Abdullah saat menjadi nara sumber Media Workshop bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Jawa, Bali Nusa Tenggara (Jabanusa) di Ball Room Hotel Haris, Malang, Jawa Timur, Selasa (26/5/2015).

Sesuai data dari SKK Migas yang disampaikan Gamil, saat ini jumlah cadangan minyak terbukti sebanyak 3,6 miliar barel dan cadangan Gas 100 triliun kaki kubik. Cadangan itu diperkirakan akan habis 12 tahun lagi jika tidak dilakukan pencarian cadangan baru.

“Jumlah cadangan migas kita hanya sebesar 1 persen dari cadangan migas dunia,” kata mantan pejabat yang pernah bergabung dengan perusahaan milik Bakrie Group itu.

Baca Juga :   IME Alihkan Isu Pembuatan Tenaga Listrik

“Jika ketergantungan ini terus berlanjut bukan tidak mungin pada 2025 nanti Indonesia akan menjadi Negara importir gas, dan pada 2040 jadi importir energi,” lanjut Gamil.

Gamil mencatat, sejak kurun waktu 2009 – 2014 produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan hingga 3 persen pertahun. Di antara penyebabnya adalah sekira 90% produksi minyak dihasilkan oleh lapangan tua (“mature”) yang telah berproduksi sejak dan sebelum tahun 1970-an, peralatan maupun sarana infrastruktur yang digunakan dan teknik yang diterapkan untuk menjaga produksi masih mengunakan pola lama.

“Setelah penemuan minyak di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, sebanyak 448 juta barel pada 2001, tak lagi ditemukan cadangan minyak yang besar. Mulai tahun 2002 produksi migas lebih didominasi oleh gas,” ujar Gamil, mengungkapkan.

Untuk kembali mendongrak produksi migas di tanah air, sekarang ini SKK Migas terus mendorong kepada KKKS migas melakukan pencairan cadangan baru dan menggarap kontrak yang telah ditandatangani untuk melakukan eksplorasi dan produksi.

“Kegiatan hulu migas telah bergeser ke kawasan timur Indonesia, lepas pantai, lebih remote, dan laut lebih dalam. Oleh karena itu lebih padat modal, padat teknologi, dan lebih berisiko. Menemukan seumber daya dan cadangan baru akan lebih menantang,” jelas Gamil.

Baca Juga :   25 Warga Ring 1 Banyuurip Akan Dilatih Scaffolding

Karena itu pihaknya berharap semua pemangku kepentingan di tingkat daerah membantu kelancaran kegiatan migas di wilayahnya. Karena hingga saat ini sektor migas masih berperan vital bagi Negara yakni sebagai sumber penerimaan negera terbesar setelah pajak, maupun sebagai sumber pasokan energi.

“Sekarang ini, paradigma pengelolaan industri hulu migas telah bergeser dari hanya sekedar penghasil revenue dan sumber energi menjadi penciptaan nilai tambah dengan cara memperkuat dan memberdayakan kapasitas nasional,” pungkas Gamil.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *