SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Petani di Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, meminta kepada pemerintah untuk tidak melakukan impor jagung. Karena akan menjadikan harga jagung di tingkat petani merosot setiap kali panen.
Keluhan itu disampaikan petani Banyubang saat berdialog dengan Direktorat Jendral (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Hasil Sembiring usai melakukan panen raya jagung di desa setempat, Kamis (4/6/2015).
Seperti yang disampaikan Slamet, petani Desa Banyubang. Dia mengeluhkan harga jagung yang kerap turun saat memasuki panen raya. Menurut Slamet, normalnya harga jagung bisa mencapai Rp300 ribu per kwintal.
“Namun saat stok petani melimpah, harganya bisa turun hingga Rp 250 ribu per kwintal,†kata Slamet kepada Hasil Sembiring.
Senada disampaikan, Kepala Desa Banyubang, Mohammad Salahudin. Dia mengatakan, impor jagung yang dilakukan pemerintah selama ini mengakibatkan ketidakadilan bagi petani Indonesia.
“Kami harus bersaing dengan jagung impor yang menggunakan benih lebih unggul, ini tidak adil. Kami sebenarnya siap memperluas lahan jagung asal ada perbaikan jalan usaha tani hingga ke wilayah dalam,†timpal Salahudin.
Menanggapi keluhan tersebut, Hasil Sembiring, mengungkapkan, Kementerian Pertanian sudah pernah mengumpulkan pengusaha pakan ternak agar mengutamakan untuk membeli jagung petani dalam negeri. Karena 60-70 persen produksi jagung ini dimanfaatkan oleh industri pakan.
“Tahun lalu impor jagung Indonesia mencapai 3,9 juta ton. Terkait ini Bapak Menteri Pertanian sudah memerintahkan kami untuk menambah areal lahan jagung seluas 1 juta hektar melalui kerjasama dengan perhutani dan pemanfaatan lahan kering. Sehingga produksi bisa meningkat dan mencegah terjadinya impor. Tentu (kebijakan) ini memerlukan dukungan banyak pihak,†ujar Hasil Sembiring, menjelaskan.
Dia mengaku sepakat dengan usul Bupati Lamongan, Fadeli untuk membuka demplot benih jagung unggul di Kecamatan Solokuro agar petani mengetahui contoh nyata manfaat penggunaan benih jagung unggul.
Mendapati fakta lahan pertanian jagung masih berupa sawah tadah hujan, Hasil Sembiring juga berjanji akan mencarikan sumber air untuk pengairan. Serta membuatkan sistem pengairannya hingga ke sawah.
Bupati Fadeli menambahkan, tahun ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan sudah meningkatkan anggaran untuk pembangunan jalan usaha tani. Sehingga mampu meningkatkan akses jalan produksi pertanian di Lamongan.
Di Lamongan, lanjut dia, komoditas jagung tahun ini areal tanamnya ditargetkan bisa mencapai 63.340 hektar. “Hingga Mei ini, sudah realisasi 36.398 hektar atau 57,46 persen. Dari target produksi 352.648 ton, sampai Mei ini sudah terealisasi 137.193 ton atau 38,90 persen,†pungkas Fadeli.(tok)