SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Proyek Engineering, Procurement, and Construction (EPC) 1 dan 5 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, telah mencapai 96 persen lebih dan ditargetkan produksi puncak terlaksana akhir tahun 2015 ini.
Dengan berakhirnya proyek tersebut dipastikan mengakibatkan tumpukan pengangguran. Sekira 6000 tenaga kerja dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, termasuk desa ring 1 di wilayah Kecamatan Gayam yang selama ini bekerja di proyek akan kehilangan pekerjaan.
Salah satu desa terdampak adalah Mojodelik. Dari total 1.430 Kepala Keluarga (KK), sekira 609 KK bekerja di dalam proyek yang dikerjakan oleh PT Tripatra-samsung maupun PT Rekayasa Industri-Hutama Karya.
” Kalau proyek EPC selesai, ratusan orang di sini akan menganggur,” kata Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu kepada suarabanyuurip saat ditemui di balai desa setempat, Senin (8/6/2015) lalu.
Kondisi itu, lanjut dia, diperparah dengan minimnya minat masyarakat untuk mengikuti program pelatihan dan sertifikasi non migas dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
“Mungkin mereka masih merasa nyaman di dalam proyek, jadi belum ada yang berminat,” uujar Yuntik, mengungkapkan.
Dia menyatakan, dari 609 KK yang bekerja di proyek Banyuurip tersebut hampir semuanya telah menjual lahan pertanian yang selama ini menjadi mata pencahariannya secara turun menurun. Lahan pertanian tersebut digunakan untuk pengembangan migas di Blok Cepu.
“Kalau mereka menganggur, otomatis kemiskinan akan meningkat tajam,” tandasnya.
Sampai sekarang, kata Yuntik, belum ada jalan keluar untuk masalah tersebut. Meskipun dari Pemkab Bojonegoro telah berupaya untuk menanggulangi pengangguran yang jumlahnya mencapai ribuan di Kecamatan Gayam.
“Dari total 800 hektar lahan pertanian, sekarang tinggal 400 hektar yang masih produktif,” tukasnya.(rien)