Ditanya Loker Warganya, Kades Gayam Pusing

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Menjadi kepala desa di ring satu migas Blok Cepu, memiliki beban tersendiri. Selain dianggap lebih sejahtera di banding desa-desa lainnya, juga dapat memasukan warganya menjadi tenaga kerja di proyek migas. 

Setidaknya itulah yang dirasakan Kepala Desa (Kades) Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Winto. Dia mengaku pusing jika ditanya masyarakatnya tentang lowongan pekerjaan (Loker) di proyek Lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu.

“Sampai saat ini masih buntu, belum ada jalan keluarnya,” kata dia kepada suarabanyuurip.com, Kamis (11/6/2015).

Hal ini menyusul mulai adanya pengurangan tenaga kerja di proyek engineering, procurement and constructions (EPC) Banyuurip karena semakin berkurangnya pekerjaan.

Winto juga mengaku belum memiliki pemikiran tentang mengatasi lonjakan pengangguran di Desa Gayam usai pekerjaan EPC selesai. Ribuan jiwa yang dulunya bekerja di EPC berpotensi menganggur karena belum mendapatkan pekerjaan pengganti lainnya.

“Mau bertani juga lahannya sudah banyak yang dijual,” ucapnya.

Apalagi, menurut dia, upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi non migas nampaknya sia-sia. Karena, mental para pemuda sendiri sampai saat ini hanya ingin mendapatkan pekerjaan di dalam proyek.

Baca Juga :   PLN Perbaiki Jaringan di Gayam

“Justru sekarang ini muncul isu adanya oknum pegawai Blok Cepu yang akan menggandeng tenaga kerja dari luar. Ini sudah seperti lauk sehari-hari yang harus dinikmati,” tandasnya.

Winto mengaku pernah didatangi oleh salah satu calon tenaga kerja dari Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang menanyakan apakah benar dirinya meminta sejumlah uang agar bisa bekerja di proyek Blok Cepu.

“Meski saya tidak punya bukti, tapi kabar di luar sangat kencang saya dapatkan. Pokoknya, kalau mau bekerja ke EPC pasti ditarik uang,” kata dia, mengungkapkan.

Menurut Winto, karena hal itulah kemungkinan besar kontraktor EMCL enggan merekrut tenaga lokal untuk dijadikan karyawan. Karena selain tidak bisa menarik uang, juga tidak mau menghabiskan biaya besar untuk melatih keterampilan dan tes medikal sebagai persyaratan.

“Apakah semua itu benar atau tidak ya hanya Tuhan yang tahu,” sindirnya.

Dirinya berharap, papan informasi yang terpampang di balai desa diisi dengan pengumuman yang berguna. Baik dari EMCL maupun kontraktor-kontraktornya mengenai lowongan tenaga kerja.

Baca Juga :   Selenggarakan JMF Tiga Kali di Lamongan

“Semisal jika tidak butuh karyawan ya buat pengumuman atau informasi berbentuk pamflet. Tapi kalau memang butuh tenaga kerja ya harus jelas informasinya, buat pekerjaan apa, untuk apa, berapa kebutuhannya, caranya bagaimana,” saran dia.

Winto berpesan, sebagai operator dan kontraktor yang ada di lingkungan masyarakat terdampak harus mengutamkan potensi lokal. Karena bagaimanapun juga akibat proyek pengembangan migas ini yang merasakan baik buruknya pertama adalah lingkungan sekitar.

“Masih ada harapan bagi pemuda lokal untuk bekerja lagi setelah proyek EPC selesai. Sebab masih ada pekerjaan perawatan, dan EMCL pasti akan menggandeng kontraktor untuk mengerjakannya,” pungkasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *