SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah akan melarangan keras impor komoditi yang bisa dihasilkan dari sektor pertanian di Indonesia. Demikian disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat berdialog dengan petani di Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (24/6/2015) siang tadi.
Andi menyampaikan, melakukan impor barang kebutuhan dianggap menjadi solusi untuk mengantisipasi dampak kenaikan ataupun kelangkaan barang ataupun produk di tengah masyarakat. Namun impor membawa dampak yang luar biasa yakni melemahkan kemampuan petani.
“Sejak dua minggu ini kran impor kita tutup,” tandasnya.
Andi menegaskan, impor bukan solusi yang tepat karena membawa dampak negatif untuk perkembangan sektor pertanian dalam negeri. Selain itu, lanjut dia, adanya kelangkaan untuk komoditas bawang merah dan cabai beberapa waktu lalu bisa diatasi dengan operasi pasar.
“Saya turun langsung dilapangan khususnya daerah-daerah penghasil komoditas ini,” imbuhnya.
Di daerah-daerah penghasil bawang dan cabe, lanjut Andi, harga komoditas keduanya ternyata rendah.
“Contohnya di Bima di Nusa Tenggara Timur. Harga bawang merah di sana hanya enam ribu rupiah perkilogram,” ungkapnya.
Namun, lanjut Andi, karena harga di kota bisa mencapai Rp30 ribu sampai dengan Rp40 ribu per kilogram membuatnya segera bertindak.
“Dengan menggelar operasi pasar, kini harga bawang merah kembali stabil dikisaran 18-20 ribu rupiah perkilogram,” tandasnya.
Sehingga, apabila kran import dibuka maka nasib petani di Indonesia akan menderita. Selain itu, pihaknya menjamin harga sembako akan aman dan stabil hingga hari raya idul fitri nanti.
“Ramadan ini dipastikan tidak ada impor komoditas pertanian, apakah itu bawang merah maupun cabe merah, ” tegas Andi.
“Karena daerah penghasil ternyata mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tutupnya.(rien)