SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Di dalam kegiatan industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas) konteks tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Sosial Responsibility/CSR) sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan kegiatannya di masyarakat.
Perwakilan Lingkar Studi CSR, Jalal menyampaikan, CSR di industri migas berpotensi memperbaiki kondisi lingkungan di masyarakat. Namuan kecenderungan CSR di industri migas dengan adanya supremasi of business case membuat perusahaan migas mengabaikan banyak isu, termasuk kemiskinan dan hubungan dengan pemerintah.
“Perusahaan migas cenderung membiarkan tata kelola pemerintahan yang buruk termasuk dalam regulasi soal CSR,” tegas dia saat memberikan materi pelatihan jurnalis di Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Tidak hanya itu, pria yang menulis ratusan artikel tentang pembangunan berkelanjutan dan CSR ini menyatakan, standart yang dianggap universal tidak cukup baik untuk memandu CSR migas. Bahkan kebutuhan dan ekspetasi pemangku kepentingan berbeda-beda.
“Namun industri migas cenderung menyamaratakan program atau project CSR,†tandas Jalal.
Dia menilai, di dalam aspek lingkungan, perusahaan penghasil migas bersama dengan tambang batu-bara kerap dianggap sebagai pihak yang paling bersalah dalam pemanasan globa. Oleh karena itu, lanjut Jalal, perusahaan migas yang bertanggung jawab sosial kini banyak menyatakan dirinya sebagai perusahaan energi, dan mulai berinvestasi dalam sumber energi terbarukan.
“Ekstrasi migas juga banyak dilakukan dengan tekhnologi yang semakin bersih, sementara perusahaan migas juga kerap mempromosikan pemanfaatan yang semakin efisien dan bijak,” ucpnya.
Jalal menegaskan, CSR perusahaan migas di negara-negara berkembang masih kerap mengabaikan isu-isu efficiency dan energy efficacy sehingga dianggap tidak serius.
“Perusahaan penyumbang polusi terbesar di industri migas nomer satu adalah Chevron dan kedua adalah ExxonMobil dari USA,” kata dia, mengungkapkan.
Jalal menerangkan, dari kegiatan kedua perusahaan tersbut tertera untuk Chevron emmisions pada tahun 2010 yang dihasilkan mencapai 423 MtCO2e, Cumulative tahun 1854-2010 sebesar 51,096 MtCO2e, Percent of Global tahun 1751-2010 mencapai 3,52 persen. Â Sementara ExxonMobil, kata dia, emmisions yang dihasilkan mencapai 655 MtCO2e, Cumulative tahun 1854-2010 sebesar 46,672 MtCO2e, Percent of Global tahun 1751-2010 mencapai 3,22 persen.
“Apakah CSR perusahaan migas sudah maksimal? semua bisa menilai sendiri tentunya,” pungkas Jalal.(rien)