SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pembayaran PBB P2 di wilayah ladang Migas Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga saat ini masih rendah.
Camat Gayam, Hartono, mengungkapkan, dari 12 desa yang ada baru 20 persen pajak yang terhitung masuk sejak awal tahun.
“Padahal, sejak Maret kami sudah membagikan SPPT ke masyarakat melalui masing-masing perangkat,” ujarnya kepada Suarabanyuurip.com, Senin (29/6/2015).
Dia melanjutkan, seharusnya semua pihak harus sadar akan pentingnya PBB P2 ini. Karena, PBB P2 merupakan sebuah proses pembelajaran bahwa ada hak, dan kewajiban yang harus seimbang.
“Keseimbangan ini ya antara masyarakat dengan pemerintah,” tandasnya.
Dia menyatakan, penyebab kecilnya pembayaran PBB P2 di Kecamatan Gayam masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada indikasi permainan perangkat yang menyalahgunakan uang pajak dari masyarakat yang sudah membayar kewajibannya tersebut.
“Untuk memastikan apakah indikasi itu benar, kami akan segera melakukan pengecekan,” tukasnya.
Dia menegaskan, apabila memang benar kecilnya pembayaran PBB P2 ini karena ulah perangkat yang menggunakan uang pajak dari masyarakat maka tidak tanggung-tanggung akan melaporkannya ke pihak kepolisian.
Saat ini, kata Hartono, upaya yang dilakukan pihak kecamatan adalah meminta bukti pelunasan PBB P2 dari masyarakat apabila mengajukan permohonan atau lainnya.
“Dari situ ketahuan, apa memang masyarakatnya yang bandel, atau uangnya dipakai dulu oleh perangkat,” imbuhnya.
Sedangkan data dari Kanytor Kecamatan Gayam menyebut, pembayaran PBB P2 di Desa Gayam sebesar Rp70 juta dari target sebesar Rp263.138.621, Begadon sebesar Rp996.467 dari target Rp102.546.279, dan Mojodelik sebesar Rp10.232.000 dari target Rp120.958.442.Â
Untuk Desa Ringintunggal sebesar Rp6.824.928 dari target Rp107.618.117, Brabowan sebesar Rp4.425.181 dari target sebesar Rp73.235.390, Bonorejo sebesar Rp4.636.784 dari target Rp48.864.338, dan Desa Beged sebesar Rp77.546 dari target sebesar Rp45.128.775.
Sementara itu Desa Ngraho sebesar Rp154.232 dari target Rp79.610.022, Sudu sebesar Rp503.790 dari target Rp87.339.513, Katur sebesar Rp1.421.763 dari target Rp215.829.572, Cengungklung sebesar Rp8.498.966 dari target Rp40.702.346, dan Desa Manukan sebesar Rp21 juta dari target Rp60.374.927.
“Paling rendah ya Desa Beged, baru masuk 77 ribu rupiah saja,” pungkasnya.  (rien)