Gandeng Paguyupan, Pertamina EP Berpedoman PTK 007

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Bojopnegoro – Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset IV Feild Cepu menyatakan jika sistim swakelola yang dilakukan dengan paguyupan penambang Wonocolo dan Wonomulyo dalam pengelolaan sumur minyak di wilayah Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sekarang ini telah sesuai dengan PTK 007 tentang pengadaan barang dan jasa. Karena dalam swakelola ini kerjasama yang dilakukan tidak lagi didasarkan pada titik sumur, melainkan wilayah kerja pertambangan (WKP) Pertamina.

“Dalam PTK 007, swakelola bisa dilakukan dengan lembaga apa saja, termasuk peguyuban,” tegas Legal and Relations Pertamina EP Asset IV Field Cepu, Ali Hermansyah kepada suarabanyuurip.com di salah satu rumah makan di Bojonegoro, Rabu (7/7/2015) kemarin.

Menurut dia, dengan berpedoman pada PTK 007 sistim kerjasama yang dilakukan sekarang ini adalah WKP. Sehingga tidak ada lagi istilah sumur tua seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 01 Tahun 2008 tentang pengusahaan sumur tua oleh KUD maupun BUMD.

Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Field Atasi Kebocoran Pipa, Kini Fokus Kembalikan Kualitas Tanah

“Karena yang berhak menyebut sumur itu sumur tua adalah Kementerian ESDM dan Pertamina,” tegas Ali.

Sistim swakelola yang dilakukan Pertamina EP dengan paguyuban penambang ini dilakukan setelah anak perusahaan badan usaha milik Negara (BUMN) itu memutus perjanjian kontrak kerjasama dengan dua Koperasi Unit Desa yakni KUD Sumber Pangan (SP) dan Usaha Jaya Bersama (UJB) sejak 15 Juni lalu. Pemutusan kontrak kerjasama itu dikarenakan dua KUD tersebut telah melanggar perjanjian di antaranya menyebabkan terjadinya illegal drilling dan illegal trading.  

“Target kita adalah mengamankan produksi dan mensejahterakan masyarakat penambang. Karena itulah kita menggandeng paguyuban,” tandas Ali.

Di wilayah kerja Pertamina di Bojonegoro terdapat 570 titik sumur baik sumur baru maupun sumur lama. Dari jumlah itu, 255 sumur merupakan sumur lama yang tersebar di wilayah Wonocolo dan Dangilo sebanyak 224 sumur dan sisanya di wilayah Malo.
Rata-rata produksi dari semua sumur itu sebanyak 1200 barel per hari (bph). Produksi minyak mentah itu setiap harinya ditampung oleh paguyuban kemudian disetorkan ke Pertamina EP.

Baca Juga :   Pansus DBH Migas Tak Jelas

Sedangkan penambang yang tergabung dalam dua paguyupan itu memperoleh jasa ongkos angkut Rp2.755 per liter. Dengan komponen, 70 persen atau senilai Rp2100 untuk penambang, sedangkan 30 persen komponen lainnya seperti jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan, HSE, lingkungan, pajak, biaya pengembangan masyarakat desa, dan lain-lainnya.

“Karena tujuan utama kita adalah ingin mensejahterakan masyarakat penambang, jadi mereka harus memperoleh prosentase lebih besar,” pungkas Ali.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *