Panen Terakhir di Tengah Kemarau Panjang

WALAU terik matahari serasa memanggang tubuh, namun menyurutkan empat petani membabat hampar padi yang telah menguning. Para buruh tani itu tak tampak letih mengayunkan sabit di atas setengah hektar lahan, di Dusun Puduk, Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro.  

Bagi warga desa ring 1 lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu hamparan padi tersebut, seperti pengharapan terakhir di saat musim kemarau terik. Apalagi dalam hitungan para burtuh tani, panen ini merupakan panen terakhir sampai memasuki musim hujan nanti.

Demikian pula dengan Pono (45). Sang buruh tani masih bertahan di saat jam menunjuk angka 13.00. Peluh yang membasahi kaos tak jelas warnanya, semakin melahirkan beban fisik yang ditahannya.

“Lumayan, dalam satu minggu ini saya  dapat kerjaan panen padi di sekitar lokasi proyek Banyuurip,” ujar Pono dengan logat Jawa saat ditemui Suarabanyuurip.com, Selasa (14/7/2015).

Bersama tiga rekannya, bapak empat putra ini mengayak bulir padi dari sisa-sisa sekam yang tertinggal untuk dimasukkan ke dalam sak. Meski setelah panen kali ini tanah menjadi tandus, namun masih ada harapan dengan garapan berikutnya yakni menanam jagung.

Baca Juga :   Penghuni Tanah Gersang Nikmati Air Depan Rumah

“Kalau mburuh sawah begini dapatnya sehari bisa Rp100.000 sampai Rp150.000,” tambah Pono seraya menyeka peluh di dahinya.

Sambil sibuk mengangkat karung-karung yang sudah penuh, pria yang hanya tamatan SD ini mengungkapkan, jika musim kemarau tiba bias dipastikan akan mengurangi pendapatan sebagai buruh tani.

“Kalau merawat jagung, upahnya maksimal Rp25.000 per hari. Itupun hanya pada waktu tertentu saja,” tambah Pono.

Segala kekurangan itu tidak membuatnya berhenti bersyukur. Paling tidak, moment lebaran tahun ini masih bisa membelikan baju baru untuk kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Sedangkan, dua anaknya yang beranjak dewasa masih bisa menggunakan baju lama.

Alhamdulillah masih bisa bersyukur,” tukasnya.

Hasil panen kali ini hanya menghasilkan 1 ton gabah kering. Menurun jika dibandingkan musim penghujan yang bisa mencapai 5-7 ton tiap hektarnya.

“Harga perkilo gabah naik dari sebelumnya Rp3.000 sekarang Rp4.000,” tukasnya.

Adzan Ashar sayup-sayup terdengar dari surau kampung. Penanda waktu menjalankan ibdah sholat tersebut, juga menandai berakhirnya pekerjaan. Pono bersama tiga karib seprofesi yakni,  Jumari, Wiyono, dan Pariman langsung bergegas. Mereka menaikan satu persatu sak di atas motor. Hasil panen yang telah dirontokan itu harus disetor ke pemilik sawah.

Baca Juga :   Mengobati Kegelisahan Anak Petani

“Usai panen disini saya garap lahan lain lagi,” ujar warga ring 1 Banyuurip ini yang tidak pernah merasakan dampak positif dari kegiatan Migas tersebut. (ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *