2 Dusun Tolak Beras Kompensasi EMCL

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Beras kompensasi atas kegiatan flaring dari operator lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL), ternyata tak diterima oleh warga dua dusun di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kebupatan Bojonegoro, Jawa Timur.

Dua dusun yang warganya menolak beras tersebut adalah Dusun Ledok, dan Dusun Samben. Warga tak ada yang mengambil beras yang sudah diserahkan melalui Kepala Dusun (Kasun) setempat.

“Dulu itu, waktu sosialisasi dilakukan saya, dan warga lainnya sudah mengajukan keberatan, tapi tidak digubris,” kata seorang warga yang menolak disebut jatidirinya.

Pria berperawakan tinggi, dan kekar ini menyatakan, keberatan tersebut dikarenakan, jumlah beras sebanyak 10 Kilogram masih dirasa kurang. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan risiko yang diterima warga dengan keberadaan flaring.

“Protesnya warga ya seperti ini,” ujarnya saat ditemui Suarabanyuurip.com di sekitar tempat tinggalnya, Rabu (15/7/2015).

Pria yang mengaku sebagai buruh tani ini menceritakan, pada hari Jumat dan Sabtu tepatnya tanggal 10 dan 11 lalu sempat tercium bau menyengat. Saat ditelusuri beberapa warga ternyata berasal dari cerobong (Flare) yang tidak mengeluarkan api. 

Baca Juga :   Eni Targetkan Produksi Gas 2 Miliar Kaki Kubik Per Hari dari Laut Jawa di 2029

“Ya ternyata cerobongnya mati. Saat hidup baunya tidak terlalu menyengat lagi,” ujarnya sambil menunjuk lokasi flaring dari ujung jalan setapak.

Dikonfirmasi terpisah, kepala Dusun Ledok dan Samben, Gunawan, masih enggan menanggapi adanya aksi warganya yang menolak pemberian beras tersebut.

“Nanti saja Mbak, kepastiannya saya beri tahu. Yang jelas, warga sudah saya beritahukan bahwa beras ini hak mereka,” kata Gunawan.

Saat disinggung bau menyengat saat flaring mati pada Jumat dan Sabtu lalu, Kasun Gunawan membenarkan hal itu.

“Kalau itu memang iya, saat bau menyengat datang bersamaan dengan api flare yang kondisinya mati,” imbuhnya.

Dia tambahkan, saat itu pihaknya tidak mau meributkan bau menyengat kepada pemerintah desa maupun operator. Dikarenakan laporan yang berkaitan dengan flaring dianggap sia-sia.

“Bisa ditanya warga sekitar, kejadian itu,” pungkasnya.

Sementara itu, baik Kades Mojodelik, Yuntik Rahayu, maupun Public and Government Affair Manager EMCL, Rexy Mawardijaya, belum memberikan konfirmasinya mengenai hal tersebut. Saat dihubungi melalui ponsel tidak ada jawaban. (rien)

Baca Juga :   Warga Sekitar Migas Sukowati Berharap Hasil Uji Lab Air Keluar Tepat Waktu

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *