SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Setiap memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, masyarakat di sekitar lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, selalu kekurangan air. Baik air untuk kebutuhan pertanian, peternakan, maupun sehari-hari.
Camat Gayam, Hartono, mengatakan, meski sudah mulai kesulitan, namun hingga saat ini belum ada permintaan untuk pengiriman air bersih.
“Kebutuhan air bersih ini dari bantuan operator migas,” kata dia kepada suarabanyuurip beberapa waktu lalu saat ditemui di kantornya.
Dia menambahkan, meski menjadi langganan kekeringan tiap tahun, namun upaya untuk mengatasi kekurang air belum maksimal. Baik itu berupa sumur bor maupun tandon air.
“Kalau sumur bor masing-masing rumah ada, tapi tetap saja kering. Sedang tandon air hanya ada di beberapa titik saja,” ungkap Hartono.
Mantan Camat Purwosari itu mengaku, selama ini mengandalkan bantuan air bersih dari operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan  operator Lapangan Unitisasi Gas Jambaran – Tiung Biru (TBR), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC). Selain itu, juga dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro.
“Kami berharap ada jaringan PDAM di Kecamatan Gayam. Jadi kebutuhan air utamanya untuk sehari-hari ini bisa terpenuhi,” imbuhnya.
Dari keseluruhan desa di wilayah Kecamatan Gayam, lanjut Hartono, daerah yang rawan kekeringan ada di dusun Sumurpandan, Kaliglonggong, Temlokorejo, Desa Gayam, dan Dusun Gedekan, Desa Mojodelik.(rien)