SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Bencana kekeringan mulai melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sejumlah desa telah mengajukan bantuan air bersih karena sumber mata air di sumur mereka telah mengering.
Sesuai data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Bojonegoro, sudah ada enam desa di empat kecamatan yang mengajukan dropping air bersih. Yakni Kecamatan Kasiman, Kedungadem, Temayang, dan Ngraho.
“Sudah sejak tanggal 14 Juli lalu empat kecamatan itu mengajukan bantuan air bersih,†kata Kepala Seksi Kebencanaan dan Logistik BPBD Bojonegoro, Budi Sukisna.
BPBD memprediksi permintaan air bersih akan meningkat pada awal Agustus nanti. Sebab pada bulan itu dampak kekeringan akan mulai dirasakan warga karena persedian air bersih atau sumber mata air telah habis.
“Sesuai pemetaan yang kita lakukan ada 30 desa di 17 kecamatan yang berpotensi kekeringan,†kata Budi mengungkapkan.
Untuk mengantisipasi bencana tahunan itu, BPBD Bojonegoro telah menyiapkan tujuh mobil serba guna untuk mendropping air bersih. Ke tujuh mobil itu berada tersebar di empat tempat yakni di Kantor BPBD di wilayah Bojonegoro, Baurno, Temayang, dan Padangan.
“Kita juga bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial dan PDAM Bojonegoro untuk mendroping air bersih,†ujar Budi.
Bagi desa yang dilanda krisis air bersih dapat mengajukan bantuan melalui kecamatan masing-masing. Kemudian kecamatan mengajukan surat kepada Bupati Bojonegoro yang ditembuskan ke BPBD Bojonegoro.
Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro, telah mendroping air bersih di Dusun Brabuwan, Desa Pandantoyo, Kecamatan Temayang pada Selasa (27/7/2015). Droping air bersih diberikan kepada 200 kepala keluarga (KK) di 4 RT di Dusun Brabuwan.
“Kebetulan dusun ini ada di dataran tinggi,” sambung Kepala Disnakertransos Bojonegoro, Adie Witjaksono dikonfirmasi terpisah.
Berbeda dengan BPBD, Disnakertransos mencatat, saat ini ada 76 desa di 21 Kecamatan yang mengalami kekeringan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 44 desa diintervensi untuk dibuatkan sumur bor, sementara 30 desa lainnya menyusul.
“Kami telah menganggarkan Rp 100 juta untuk mengatasi kekeringan,” imbuhnya.
Sementara itu, Sumiati, warga Dusun Brabowan, menyatakan, mulai kesulitan air bersih sejak 3 bulan yang lalu. Sumur-sumur yang dulunya masih mengeluarkan air, kini mulai mengering.
“Hampir setiap tahun kami kesulitan air bersih, dan baru kali ini mendapatkan bantuan,” ujar wanita paruh baya ini.
Wanita yang bekerja sebagai buruh tani ini mengungkapkan, untuk mendapatkan air bersih , harus berjalan sejauh 2 kilometer menuju Desa Pandantoyo. Disana terdapat sumur-sumur yang masih mengeluarkan sumber air meski musim kemarau.
“Satu galon air itu bayar Rp 1000. Sementara kebutuhan sehari-hari bisa sampai 5 galon lebih,” tukasnya.(rien)