SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Memasuki musim kemarau saat ini banyak petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang menanam tanaman palawija, atau tembakau. Tanaman tersebut lazim dibudidayakan mengingat kebutuhan air yang mulai berkurang, dan kondisi tanah yang kering kerontang.
Kondisi itu tidak berlaku bagi petani di Dusun Mlaten, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, desa Ring 1 Lapangan Sukowati, Blok Tuban, yang menanam sayuran jenis kubis. Tanaman yang biasanya ditanam di dataran tinggi ini mampu tumbuh, meskipun berada di daerah dengan suhu udara cukup panas.
Salah satu buruh tani, Bayu (40), mengatakan, luas lahan yang ditanami kubis ini mencapai 2,5 hektar. Meski dianggap hal yang aneh, namun pemilik sawah tetap melakukan uji coba, seperti tanaman melon sebelumnya.
“Tidak ada perawatan khusus Mbak, ya pokoknya bertani biasa gitu,” ujar pria asal Desa Ngampel ini.
Dia mengungkapkan, usia sayuran kubis ini sudah memasuki hari ke 25. Masih butuh waktu 90 hari lagi untuk bisa memanen hasilnya.
Bapak dua anak ini mengaku, untuk merawat sayuran kubis ini bersama lima temannya mendapatkan upah sebesar Rp50.000 setiap harinya.
“Nantinya, kalau sudah panen rencananya akan di kirim ke Jakarta, dan Korea,” lanjutnya.
Dia mengungkapkan, dalam areal 2,5 hektar ini terdapat 80.000 tanaman kubis yang didatangkan dari Jember. Sementara untuk pengairan, tanaman ini mendapat pasokan dari sumur bor yang masih mengeluarkan sumber air meski sedikit.
“Kalau harganya, dari petani setiap kilonya dijual Rp3.500,” pungkasnya. (rien)