SuaraBanyuurip.com -Â Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Tiga kendaraan pemadam kebakaran dengan sirine meraung-raung melesat cepat membelah arus lalu lintas padat di jalan raya di wilayah kota Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (30/7/2015), pukul 15.30 WIB.
Laju Damkar semakin beringas bersamaan membumbungnya asap hitam di langit Jalan Basuki Rahmat, Kecamatan Bojonegoro. Meski sirine telah dibunyikan, namun tiga kendaraan berwarna merah-orange tersebut nampak kesulitan melewati lautan manusia yang terus menyemut untuk menyaksikan bencana kebakaran di wilayah setempat.
Dengan terpaksa, salah satu anggota pemadam kebakaran turun dan berteriak supaya semua orang memberikan jalan. Baru kemudian, kendaraan tersebut bisa lewat dan berhenti tepat dimana rumah milik Joko Utoyo, Suryana, dan Cucuz terbakar.
“Selang, selangnya tarik. Cepat, jangan sampai merembet ke rumah lain,” kata salah satu petugas pemadam kebakaran yang dengan sekuat tenaga menarik selang air teoat didepan kobaran api.
Melihat sepuluh petugas berjibaku, tanpa dikomando warga yang kebanyakan adalah laki-laki membantu memegang selang dan menyemprotkan air ke titik api.
“Sebelah belakang pak, masih besar apinya,” teriak warga.
Di antara kepanikan itu, suara isakan tangis seorang perempuan terdengar pilu merajam hati. Beberapa orang kemudian memapah dan membawanya menggunakan sepeda motor menjauh dari lokasi kebakaran.
“Itu yang punya rumah, namanya Mbak Ana. Kasihan dia tinggal sendirian di rumah itu,” kata Wartini, warga Jalan Basuki Rahmat Gang Namlo yang ikut menyaksikan pemadaman api di lokasi.
Barang-barang di dalam rumah yang terbuat dari kayu itu nampak luluh lantak di lalap si jago merah. Semprotan air yang berkali-kali menyembur dari moncong selang tak kunjung meredam kemarahan si jago merah. Begitu pula kediaman milik Cucuz yang berada tak jauh dari rumah Ana, sudah habis dilalap api.
Pemandangan yang tak kalah menegangkan terlihat di rumah Joko. Rumah ini jaraknya hanya sejengkal dari rumah Ana dan Cucuz. Pemilik rumah pontang panting berjuang menyelamatkan harta bendanya dari amukan api.
Bersama keluarganya dan dibantu warga, Joko mengangkut kasur, televisi, lemari, baju, dari dalam rumahnya. Sedangkan sisanya ludes bersama perabot dapur.
“Alhamdulillah, rumah milik Pak Joko masih bisa diselamatkan yang bagian depan. Karena hanya ruang tengah dan dapur ternuat dari anyaman bambu dan terbakar,” kata Warsito, salah satu warga yang ikut serta membantu menggotong semua barang-barang keluar.
Dalam waktu 60 menit petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro bersama warga bergotong-royong berhasil memadamkan api. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Namun belum ada keterangan resmi dari instansi terkait tentang kejadian ini. Begitu pula jumlah kerugian akibat bencana tersebut. Namun diperkirakan kerugian mencapai ratusan juta.
Istri Ketua RT setempat, Sri Ernawati, mengatakan, tidak mengetahui penyebab pasti kebakaran tersebut. Bahkan, saat api membesar dan membakar rumah milik Joko, pemilik rumah dan keluarganya tidak menyadari hal itu.
“Baru ketika ada suara benda jatuh mereka sadar api sudah melalap bagian dapur yang memang terbuat dari anyaman bambu atau gedheg,” imbuhnya.
Wanita berjilbap ini mengungkapkan, rumah yang terbakar tersebut memang semuanya terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Seperti rumah milik Joko Utoyo, yang bangunan ruang tengah sampai dapur masih berupa gedek atau anyaman bambu, sementara rumah Suryana atau Ana semua terbuat dari kayu begitu juga dengan Cucuz.
“Kalau dari suara orang-orang terdekat sana, memang ada salah satu dari pemilik rumah itu yang rajin membakar sampah. Tapi kami tidak berani memastikan apakah memang kebakarannya karena itu,” tandasnya.
Kepulan asap dan abu yang menyebar disertai bau sangit berhembus terbawa angin. Warga masih berkerumun di lokasi kejadian. Sejumlah tetangga dan keluarga korban masih terlihat shock ketika ketiga mobil pemadam kebakaran meninggalkan lokasi kejadian.(rien)