SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Amuk massa pekerja proyek Engeenering Procurement and Contruction (EPC)-1, Banyuurip, Blok Cepu melibatkan sekitar 8.000 pekerja. Hampir semua fasilitas proyek dari kaca hancur dilempar batu oleh pekerja yang ngamuk.
Pantauan Suarabanyuurip.com dari dalam proyek EPC-1 Banyuurip menyebut, selain fasilitas kantor yang rusak sedikitnya tiga mobil rusak akibat lemparan batu. Rinciannya satu mobil terguling, dan dua lainnya kaca depan dan sampingnya hancur.
Selain itu tampak sejumlah bangunan rusak, diantaranya nyaris roboh akibat amukan massa. Tampak juga kaca, dan kertas dokumen proyek terlihat berserakan.
Belum diketahui berapa kerugian akibat amuk pekerja di siang bolong tersebut. Yang pasti para tenaga security terlihat tak bisa berbuat banyak, karena massa pekerja yang terlibat dalam aksi, dikabarkan sebanyak 8.000 pekerja.
Bupati Bojonegoro Suyoto yang mendengar informasi terjadinya amauk pekerja, langsung mendatangi lokasi proyek nasional tersebut. Dia didampingi Sekretaris Kabupaten (Sekab) Bojonegoro, Soehadi Moeljono, dan Kepala Dinas ESDM, Agus Supriyanto.
Rombongan bupati ini langsung meminta pertemuan dengan pekerja dan pihak proyek. Mereka melakukan pertemuan tertutup di salah satu ruang di kompleks proyek.
Selain itu, jajaran Polres Bojonegoro langsung mengirim tiga peleton untuk mengatasi kisruh di dalam proyek. Mereka langsung semburat menempati titik-titik tertentu untuk menentramkan massa yang beringas akibat kepanasan.
Sesaat berikutnya muncul rombongan manajemen operator Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobile Cepu Ltd (EMCL). Mereka langsung masuk ruang pertemuan, namun rombogan Bupati Suyoto telah meninggalkan ruang pertemuan.
Sejumlah pekerja yang dietmui Suarabanyuurip.com menyatakan, mereka tak tahu apa penyebab terjadinya kisruh yang melibatkan riubuan pekerja tersebut.
“Tadi kita sedang istirahat, tiba-tiba terdengar ramai dan terlibat banyak pekerja melempari kaca dengan batu,†kata mereka di lokasi kejadian. (rien)