SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Para petani pesanggem di Blok Nona di Desa Girik, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur saat ini tengah menikmati panen jagung.
Hamparan tebing-tebing perbukitaan di kawasan hutan yang masuk Perhutani Blawi, KPH Mojokerto terlihat rimbun oleh tanaman jagung yang sudah mengering. Tanaman tersebut berselang-seling dengan pohon jati.
Beberapa orang petani terlihat cekatan memanen jagung yang dibiarkan mengering ditangkainya tersebut. “Panenanya sudah satu dua minggu lalu, Â Mas. Ini tinggal tanaman sisa. Sengaja dibiarkan menunggu kering betul,” kata salah satu petani, Sandoyo, kepada SuaraBanyurip.com, Sabtu (1/8/2015).
Mayoritas petani sengaja membiarkan tanaman jagungnya mengering sendiri di lahan. “Kalau dipanen saat masih muda perawatanya lebih susah. Harus menjemur setiap hari,” kata Sandoyo. Dia tambahkan, harga jagung kering pipilan saat ini Rp2.200 per Kg.
Kasi Pemerintahan Desa Girik, Sihat, membenarkan jika banyak warga yang menjadi pesanggen hutan Perhutani. Mereka tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
“Dari sekitar 2.300 jiwa atau 660 Kepala Keluarga (KK) jumlah penduduk, sebanyak 75 persen menjadi pesanggem,” ucap Sihat.
Banyaknya warga menjadi pesanggem tidak lepas dari kemiskinan yang masih cukup kental di kehidupan warga Girik. Selain menjadi buruh tani dan pesanggem tidak ada pekerjaan lain yang ditekuni warga.
“Sebenarnya kami sangat berharap dengan adanya perusahan Pertamina akan bisa mengangkat kesejahteraan warga. Setidaknya ada kegiatan pemberdayaan ekonomi warga dari Pertamina. Sayangnya akan tutup,” tandas Sihat bernada mengeluh (tok)