SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pasca terjadinya aksi massa ribuan pekerja proyek Engeenering Procurement and Contruction (EPC)-1 Banyuurip, Blok Cepu, Sabtu (01/8/2015), kondisi aktifitas proyek yang terletak di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih terlihat sepi, Senin (3/8/2015). Belum adanya aktifitas yang menunjukkan proyek berjalan seperti biasanya.
Dari pantauan menyebut, salah satu lokasi yang biasanya terlihat tenaga kerja beraktifitas adalah lokasi tapak sumur (We’ll Pad) C Banyuurip yang masuk wilayah EPC-1, tepatnya di depan Balai Desa Gayam. Namun ditempat ini, tak ditemui pekerja beraktifitas. Yang ada hanya security dan aparat kepolisian  berjaga di sekitar lokasi proyek.
Warga Desa Gayam, Mahmudi, mengatakan, hingga saat ini kondisi aktifitas tenaga kerja (Naker) utamanya EPC-1 masih terlihat sepi. Dimungkinkan aktifitas proyek EPC Banyuurip yang di operatori ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) diberhentikan sementara hingga kondisi aman pasca kerusuhan naker.
“Saya mendukung langkah pak Bupati Bojonegoro Suyoto meminta agar aktifitas di proyek EPC Banyuurip, Blok Cepu sementara dihentikan sampai kondisi benar-benar aman baru kembali aktifitas, dan pihak kepolisian melakukan identifikasi di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut,” kata Mahmudi kepada suarabanyuurip.com.
Mahmudi menilai, aksi massa ribuhan naker sudah terkesan melampaui batas. Karena tidak hanya merusak sejumlah bangunan, tetapi juga telah melakukan penjarahan, dan bahkan aksi pembakaran baik mobil maupun lainnya.
“Beruntung mereka api tidak sampai masuk lokasi CPF dimana lokasi ini sebagai proses minyak dan pengalir minyak melalui pipa darat menuju Mudi, Kabupaten Tuban dan kilang mini milik PT Tri Wahan Universal (TWU) di Desa Sumengko,†kata Mahmudi.
“Jika itu sampai terjadi dan pipa minyak terbakar kemudian meledak, tidak cuman pekerja saja yang terkena dampaknya, tapi ribuan jiwa warga sekitar proyek, dan masayarkat di jalur pipa,” lanjutnya, mengungkapkan.
Dia meminta, agar EMCL sebagai operator Blok Cepu dan PT Tripatra – Samsung (TS) sebagai pelaksana proyek EPC-1 bertanggungjawab atas kejadian ini. Sebab kejadian kemarin membuktikan jika EMCL dan Tripatra  gagal menerapkan standart operasional prosedur (SOP).
“Karena masalah ini menyangkut keselamatan dan kesejahteraan hajat hidup orang banyak,” tegas pria yang juga tokoh masyarakat Desa Gayam ini.
Terpisah, Field Public and Government Manager MCL, Rexy Mawardijaya, membenarkan, jika aktifitas naker di proyek EPC Banyuurip dihentikan sementara hingga kondisi aman. Utamanya adalah EPC-1.
“Kalau EPC- 5 sudah mulai beroperasi hari ini,” kata Rexy Mawardijaya melalui pesan pendek. (sam)