SuaraBanyuurip.com -Â
Kejadian mistis mengiringi proses pembuatan patung Raja Setan. Patung ini disiapkan untuk Sembahyang Rebutan Umat Tiong Hoa
Puluhan patung berjajar rapi di halaman rumah sederhana di Gang Karang Rejo, RT/RW. 19/ 03, Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Di antara patung-patung itu terdapat satu patung berukuran besar dengan tinggi dua meter. Selain berukuran raksasa, bentuk patung ini sangat menyeramkan. Wajahnya angker, dengan alis tebal dan bola mata besar.
Keangkeran itu kian terasa ketika kepulan dupa di bawah patung raksasa menyeruak. Aromanya menusuk hidung semilir angin.
Namun kondisi itu tak membuat empat lelaki di samping patung raksasa itu bergeming. Mereka terlihat sibuk mempoles patung seram tersebut. Tiga orang sibuk membuat kerangka gunungan dari bambu, satu orang lainnya melakukan proses finishing.
“Ini namanya patung Raja Setan,” kata Yanto, pembuat patung kepada suarabanyuurip.com, Senin (10/8/2015).
Secara sepintas, jika diamati, patung Raja Setan seperti terbuat dari batu. Tapi siapa sangka, patung itu dan patung-patung lainnya terbuat dari kerangka bambu yang dibalut bubur kertas yang diberi lem.
“Sesajennya harus menggunakan dupa,” ujar pria yang akrab disapa Penceng itu.
Pembuatan patung Raja Setan berbeda dengan patung lainnya. Ada beberapa ritual dan pantangan dalam pembuatannya. Sebab patung tersebut merupakan patung yang didewakan dalam tradisi Sembahyang Rebutan (manganan). Rencananya patung Raja Setan itu akan digunakan Sembahyang Rebutan di Klenteng Hok Swie Bio Bojonegoro pada 29 Agustus 2015 mendatang.
Di antara ritual yang dilakukan adalah menyediakan sesajen dan pembakaran dupa. Selain itu, saat proses pembuatan mulai awal hingga merangkainya harus dalam keadaan suci, dan bahan yang digunakan tidak boleh dilangkahi.
“Selama proses pembuatan tidak ada kendala. Hanya saya sering bertengkar dengan isteri,†ucap Penceng.
Dalam pembuatan patung Raja Setan ini, Penceng dibantu Aples dan Hendro. Proses pembuatan patung sendiri sudah memakan waktu sekitar satu bulan. Sekarang ini, patung patung besar itu mulai terlihat bentuknya.
Selama ini, ketiga orang tersebut sering membuat patung yang digunakan Sembahyangan Umat Tiong Hoa di Klenteng Hok Swie Bio. Sebelumnya mereka membuat patung-patung itu bersama dengan Mbah Sunggi.
Namun, karena Mbah Sunggi meninggal dunia, kemudian Penceng yang dipercaya sebagai penerusnya. Mbah Sunggi merupakan orang yang dituakan dalam pembuatan patung dewa untuk ritual umat Tiong Hoa.
Bahkan dalam pembuatan patung ini, salah satu dari mereka mengaku mendapat mimpi di datangi Mbah Sunggi. Mbah Sunggi yang memiliki rambut panjang beruban itu sedang duduk bersila di bawah patung Raja Setan.
“Hendro yang bermimpi seperti itu,” kata pria berusia 37 tahun itu.
Selain Hendro, bermacam kejadian mistis juga dialami Penceng. Bapak dua anak ini, mengaku sering mendapati penampakan makhluk halus yang memiliki bentuk tidak jelas dan berambut panjang di depan rumahnya. Dia menyakini bahwa roh jahat yang ada di patung Raja Setan itu memang ada.
“Makanya setelah sembahyang rebutan patung ini langsung dibakar dan tidak boleh satu orang pun yang melakukan sembahyang rebutan merusaknya,” terang pria yang juga sebagai pengrajin batu akik itu.
Umat Tri Dharma Klenteng Hok Swie Bio mempercayai bahwa Sembahyang Rebutan ini merupakan bentuk syukur kepada para dewa dan arwah para leluhur yang telah melimpahkan rizki berupa hasil bumi dan melindungi umatnya. Sembahyang rebutan ini dilakukan setiap tahun pada tanggal 16 bulan tujuh penanggalan Imlek.(ririn wedia)