SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kepolisian Resor Bojonegoro, Jawa Timur, membeberkan hasil analisa kerusuhan terjadi proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip di Kecamatan Gayam, pada Sabtu 1 Agustus 2015 lalu. Ada sejumlah fakta yang ditemukan korps baju cokelat dalam insiden yang melibatkan sekira 7000 orang tenaga kerja yang berujuang pada pengerusakan sejumlah perkantoran dan pembakaran mobil di dalam obyek vital tersebut.
Fakta-fakta yang ditemukan, versi polisi, pekerja mulai istirahat pukul 11.20 dan masuk kembali pada 12.30 Wib. Karyawan mulai kumpul di pintu utama untuk istirahat pada pukul 11.13 Wib, jarak antara pintu utama dengan lokasi perkantoran temporary facility (TF) sekitar 1 Km ke arah timur TF 1.
Fakta berikutnya adalah karyawan yang berjumlah ribuan itu keluar lewat 1 pintu utama dengan berdesak-desakan ingin lebih dahulu keluar untuk istirahat. Adanya saling berdesakan dalam antrian keluar sehingga para karyawan bersitegang dengan security dan terjadi pengrusakan dan pengejaran terhadap security.
Para karyawan subkontraktor emosi dan terjadi ricuh di pintu utama. Selain marah, mereka juga merusak kantor-kantor TF milik EMCL dan Tripatra.
Wakapolres Bojonegoro, Kompol Ikhwanuddin, menyampaikan, saat ini sistem pengamanan harus terintegrasi antara pengamanan internal, pengamanan obyek vital (Pam Obvit), serta Polres Bojonegoro.
Selama ini, menurut dia, telah terjadi gep antara kepolisian wilayah Bojonegoro dengan internal operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). EMCL, kata dia, selama ini berprinsip bahwa itu menjadi tanggung jawab sepenuhnya mereka.
“Sekarang ini standar operasional prosedur kita tinggal mensinkronkan,” tegas Ikhwanuddin saat rapat koordinasi (Rakor) evaluasi kerusuhan di proyek EPC-1 dengan SKK Migas, EMCL, PT Tripatra – Samsung, Muspika, dan Forpimda di Banyuurip di rumah dinas Bupati Bojonegoro, Kamis (13/8/2015).
Dia mengungkapkan, selama ini EMCL belum pernah berkoordinasi dengan Polres Bojonegoro terkait pengamanan. Namun, pasca kerusuhan pihaknya akan melakukan pengamanan tertutup dengan menempatkan intelejen di dalam proyek.
“Kita akan gabungkan dengan Satgas,” tandasnya.(rien)