SuaraBanyuurip -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Jawa-Timur, Suyoto, mengaku mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo agar menunda puncak produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Puncak produksi sebesar 165 ribu barel per hari (bph) diperkirakan tercapai pada akhir tahun 2015.
“Saya memang berkirim surat kepada Pak Jokowi (sapaan Presidan Joko Widodo), untuk menunda puncak produksi tersebut,” kata Suyoto kepada Suarabanyuurip.com.
Dia mengungkapkan, permintaan itu dilakukan karena harga minyak mentah dunia pada saat ini berada di titik terendah, yaitu sekira USD 40 sampai USD 50 per Barel. Sehingga, cadangan minyak di Blok Cepu dapat disimpan lebih lama lagi, dan menunggu harga minyak mentah dunia kembali normal.
“Dari segi bisnis to bisnisnya, tentu merugikan dengan harga minyak mentah dunia yang sekarang,” urai Kang Yoto, sapaan akrab Suyoto.
Pihaknya memastikan, puncak produksi Blok Cepu tidak akan ada kendala secara teknis. Namun, operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) perlu menyelesaikan tukar guling tanah kas desa (TKD) Gayam seluas 13,2 hektar (ha) yang saat ini digunakan untuk kepentingan pengembangan proyek Banyuurip supaya tidak terjadi konflik sosial.
“Karena TKD merupakan salah satu komitmen EMCL dari enam item isu sosio ekonomi yang sudah disepakati bersama,” pungkasnya. (rien)