SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia
Bojonegoro – Pasca kericuhan di lokasi proyek Engineering, Procurement and Construction (EPC) Banyuurip, Blok Cepu, pada 1 Agustus 2015lalu, dipastikan tidak akan mengganggu iklim investasi di Bojonegoro, Jawa Timur.
Hal ini diungkapkan Kepala Bagian Perekonomian Bojonegoro, Helmy Elisabeth kepada suaraBanyuurip.com beberapa waktu lalu di Kantor DPRD setempat. Helmy mengatakan, hingga saat ini belum ada dampak negatif pada iklim investasi di Bojonegoro. Karena, begitu kericuhan terjadi, Pemkab langsung membuat langkah-langkah konkrit untuk mengklarifikasi kepada para pihak.
“Langkah-langkah itu, juga merupakan komitmen kita untuk menjaga stabilitas perekonomian. Tujuanya jangan sampai memberi dampak pada hal-hal lain,†katanya.
Helmy mengaku, berbagai upaya positif terus dilakukan, yaitu dengan pemasangan iklan peluang usaha investasi, dan ada beberapa investor yang mulai berniat mengembangkan bisnisnya.
Sedangkan iklan yang sudah disebarkan secara nasional itu, kata dia, di antaranya jalur transportasi yang strategis seperti rel ganda, rencana pembangunan terminal dan pergudangan atau dry port.Â
“Selain upah minimum kabupaten Rp1.311.000 untuk perkotaan, juga sudah menetapkan upah umum perdesaan sebesar Rp1.005.000. Tentunya, ini akan saling menguntungkan,†tukasnya.
Dia menambahkan, Pemkab Bojonegoro saat ini juga mengupayakan tambahan pasokan listrik yang power plant-nya akan dibangun di Bojonegoro. Dengan memanfaatkan hasil gas alam yang dieksploitasi dari pengembangan Lapangan Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (J-TB).
“Salah satu investor yang melirik berinvestasi adalah PT Maspion. Namun, masih dilakukan pemetaan,†imbuhnya.(rien)