SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Musim kemarau panjang tahun ini menjadikan surut debit air di puluhan Waduk yang tersebar di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bahkan, ada sebagian Waduk hingga kering kerontang.
Lebih parah lagi, bagi Waduk besar yang selama ini menjadi penyuplai irigasi utama tingkat sedimentasi mencapai sekira 40 persen. Sedimentasi yang tinggi terutama dialami waduk-waduk yang masuk dalam kewenangan pemerintah pusat, karena lama tidak dilakukan pengerukan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan, Supandi melalalui Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Infokom Sugeng Widodo, mengakatan, dua Waduk besar di Lamongan yang berada di bawah pengelolaan pemerintah pusat, yaitu Prijetan dan Gondang, sedimentasinya sangat tinggi.
Di Waduk Prijetan yang memiliki kapasitas terisi maksimal 9 juta meter kubik, sedimentasinya mencapai 2,2 juta meter kubik. Bahkan di Waduk Gondang, tandon air terbesar di Lamongan dengan kapasitas maksimal 23.712.500 meter kubik, sedimentasinya mencapai 3,5 juta meter kubik.
Waduk Gondang terakhir kali dilakukan pengerukan pada tahun 2013. Itupun bersama Waduk Joto di Kecamatan Lamongan dengan total sedimen yang dikeruk sebesar 80 ribu meter kubik.
“Lamongan memiliki sebanyak 33 Waduk, dan 11 Rawa. Dengan kapasitas total 110.608.905 meter kubik. Dari jumlah tersebut sedimentasi mencapai 40 persen dari kapasitas total terisinya, “ ungkapnya.
Dia menjelaskan, untuk Waduk yang dikelola Pemerintah daerah (Pemda), setiap tahun secara rutin dianggarkan kegiatan pengerukan bersama normalisasi sungai. Tahun ini, hampir Rp40 Miliar anggaran yang disiapkan Pemkab Lamongan untuk melakukan normaliasi Sungai dan Waduk.
Harapannya, dapat mengurangi potensi banjir, dan menambah kapasitas daya tampung air untuk pertanian.
“Untuk Waduk yang menjadi kewenangan pemerintah pusat harus menunggu perhatian dari sana,” imbuhnya. (tok)