Pamor Batu Akik Makin Pudar

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan- Pamor batu akik di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kian meredup. Itu ditandai dengan sepinya penjualan dan terjunnya harga batu mulia tersebut.

Menurunnya animo masyarakat terhadap batu akik terjadi sejak paska lebaran sekitar akhir Juli lalu. Puluhan penjual yang menggantungkan asap dapur dari penjualan batu akik mulai banyak gulung tikar.

“Penjualan batu akik semakin sepi mas. Penyebabnya mungkin karena sudah banyak orang yang memiliki akik dan persaingan tidak sehat antar sesama penjual akik,” kata salah satu penjual akik di depan pegadaian Babat, Iskandar, Selasa (15/9/2015).

Jika sebelumnya, setiap harinya mampu mendapatkan keuntungan Rp750 ribu-Rp 1,5 juta dari penjualan bermacam jenis akik. Namun sejak sebulan lalu hanya memperoleh hasil Rp.150 ribu-200 ribu perhari.

Karena sepinya penjualan akik para penjual akik yang biasa dasaran disepanjang kantor pegadaian hingga pasar Babat yang jumlahnya mencapai puluhan banyak yang mrotoli dan beralih keprofesi lain.

“Saya sendiri penginnya berhenti jualan akik. Tapi masih bingung mau kerja apa?” ujarnya bernada mengeluh.

Baca Juga :   PWYP Indonesia Diskusikan Sektor Energi dan Pertambangan

Dikonfirmasi terpisah, Kolektor batu akik Lamongan, Nastain mengaku, tidak heran dengan pudarnya pesona batu akik. Banyak faktor menjadi penyebab sepinya penjualan akik.

“Semakin banyaknya perajin akik menjadikan batu akik tidak memiliki nilai jual lagi. Selain itu akik tidak memiliki standar nilai jual seperti perhiasan emas sehingga sulit mempertahankan harga jual batu akik,” ujar kolektor ribuan batu akik nusantara itu.

Batu akik sendiri saat ini tidak bisa lagi diandalkan nilai jualnya. Beberapa jenis batu akik berkelas semacam pancawarna,bacan dan sebagainya yang harganya semula mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah sekarang hanya dikisaran ratusan ribu.

Berbagai upaya untuk kembali mendongkrak pamor batu akik diantaranya dengan even pameran juga tidak mampu mengembalikan animo masyarakat untuk kembali gandrung akik.

“Beberapa kali saya mengikuti pameran di Bojonegoro,Tuban, Lamongan dan kemarin di Gresik pengunjungnya juga sepi. Masyarakat kelihatannya sudah jenuh dengan akik,” paparnya lagi.

Yang menarik saat ini batu akik yang digali dari alam justru tergeser oleh batu obsidian atau batu sintesis yang merupakan perhiasan menyerupai akik produkan pabrik.

Baca Juga :   Butuh Campur Tangan Bupati Selesaikan Sengketa Tanah Gaji

“Selera masyarakat mulai bergeser dari batu akik alam ke batu obsidian olahan pabrik,” cetus Nastain.

Prediski pamor batu akik akan kembali terangkat pun sekarang sulit ditebak. “Mudah-mudahan sepinya akik saat ink hanya mati suri,” harapnya.(tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *