SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Semarang – Cadangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) di Indonesia mengalami penurunan cukup drastis sejak 10 tahun terakhir.
Kepala Urusan Hubungan Media SKK Migas, Ryan B Wurjantoro, menjelaskan, cadangan Migas Indonesia tinggal 3,2 Miliar Barel per hari (Bph). Cadangan ini diperkirakan akan habis pada 12 sampai 16 tahun kedepan.
“Sekarang Cadangan minyak kita tinggal 3,2 Miliar Bph, akan habis sekitar 12 sampai 16 tahun kedepan,” kata Ryan B Wurjantoro kepada Suarabanyuurip.com di Hotel Novotel Semarang, Rabu (30/09/2015).
Ryan menjelaskan, produksi minyak mentah yang diperoleh Indonesia sekarang masih mengandalkan sumur-sumur dan lapangan tua. Berusia sekitar 40 tahun.
“80 persen produksi kita masih mengandalkan sumur dan lapangan yang sudah tua dengan usia rata-rata 40 tahun, sementara untuk lapangan baru seperti Blok Cepu yang dikelola EMCL baru menyumbang 20 persen produksi nasional,” jelas Ryan.
Cadangan Migas yang didapat dari sumur dan lapangan lama, sekarang sudah mulai terlihat lebih banyak kadar air dibanding dengan kadar minyak. Pada tahun 1960 sampai 1977 lalu jumlah kadar minyak di suatu lapangan biasanya berbanding 10 persen air dan 90 persen merupakan minyak mentah.
Tetapi sekarang sejak tahun 1995 sampai 2013 kadar tersebut berbalik, di suatu lapangan rata-rata mempunyai kadar air sebanyak 90 persen dan kadar minyak hanya mencapai 10 persen.
“Sebentar lagi akan jadi air semua, dan kita tidak bisa lagi mengambil minyak mentah dari lapangan-lapangan ini,” jelas Ryan.
Strategi kedepan yang disiapkan pemerintah adalah menambah sebanyak mungkin cadangan Migas. Supaya produksi Migas di Indonesia bisa didongkrak kembali.
“Sayang apabila keinginan untuk meningkatkan produksi dengan menambah lapangan baru terganjal oleh hal-hal yang non teknis,” tandasnya. (edp)