SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno‬
Blora – Petani Kecamatan Kedungtuban ternyata enggan memanfaatkan Gudang dengan Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hal itu disebabkan, harga yang ditawarkan dari SRG terlalu rendah. Sehingga mereka memilih untuk menjual hasil panen padinya ke luar daerah atau dibeli tengkulak.‬
‪Satu diantara petani Kedungtuban, Sur (40), mengaku, lebih memilih menjual padi hasil panennya kepada tengkulak dibanding pada Gudang SRG.
“Dibanding SRG, harga luar lebih tinggi,” katanya kepada suarabanyuurip.com, Selasa(6/10/2015).‬
‪Terpisah, Kepala UPT Dinas Pertanian Perkebunan Perikanan Dan Peternakan (Dintanbunanikan) Blora bagian Kecamatan Kedungtuban, Suparman, membenarkan jika harga jual SRG lebih rendah dibandikan dengan harga luaran.
Harga Pokok Pemerintah (HPP) Gabah sebesar Rp3.700 yang diterapkan pada SRG, lebih rendah dari harga yang ditawarkan dari pihak luar atau tengkulak senilai Rp4.100. Bahkan pernah menyentuh hingga Rp4500.
“Wajar jika petani lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak,” katanya saat ditemui di kantornya Selasa (6/10/2015).
Dia menambahkan, petani di Kedungtuban lebih diuntungkan dengan panen di luar musim panen raya. Panen di luar musim ini membuat harga padi para petani melonjak signifikan dibanding saat panen raya serentak.‬
‪Perlu diketahui, Gudang dengan SRG tersebut dibangun di atas tanah seluas 3.500 meter persegi milik Pemkab Blora. Daya tampung gudang mencapai 1.500 ton gabah. Mesin pengering gabah berkapasitas 10 ton per delapan jam. Gudang ini juga dilengkapi dengan lantai jemur gabah, ganset, listrik, tataan gabah, air, perkantoran dan musholla. Mulai operasi sejak tahun 2013 lalu.
Dari pantauan suarabanyuurip.com akibat masyarakat masih enggan memanfaatkannya membuat Gudang terbengkelai, pintu gerbang gudang tampak terkunci rapat dan tidak ada aktifitas sama sekali. Â (Ams)