SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Desa Bakung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang saat ini menjadi sasaran program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 95 Kodim 0813 Bojonegoro, ternyata menyimpan sejarah perjuangan. Di tempat ini, sekira tahun 1947 silam, menjadi lokasi persembunyian pasukan gerilyawan pada zaman Belanda.
Saksi sejarah, Sarbini, warga setempat menceritakan tentang terjadinya perang kemerdekaan di desanya. Pria berusia 74 tahun itu mengaku masih ingat betul ketika terbunuhnya tentara Belanda oleh gerilyawan di desanya.
“Saat itu saya masih kecil,†ucap Sarbini kepada suarabanyuurip.com, Senin (12/10/2015) sore kemarin.
Kehadiran tentara di desanya pada kegiatan TMMD kali ini serasa menggugah kenangannya masa lalu. Sarbini serius melihat kegiatan tentara yang sedang membangun jalan paving.
Meski sudah memasuki usia senja, Sarbini masih bersemangat bercerita. Termasuk ihwal terbunuhnya tentara Belanda yang kejadiannya tak jauh dari rumahnya.
“Tentara Belanda mengejar lokasi persembunyian pasukan gerilyawan yang berasal dari Madura waktu itu,†katanya.
Diceritakannya, gerilyawan Madura memang bersembunyi di antara pohon bambu yang dekat dengan pemakaman umum Dusun Mejasem Desa Bakung. Telah beberapa hari gerilyawan bersembunyi, diketahuinya mereka usai melakukan perang di antara Baureno – Babat Lamongan. Namun tempat persembunyian diketahui tentara Belanda. Rombongan penjajah itu naik truk dari arah selatan, yang sekarang jalur utama jurusan Kanor – Sumberrejo.
“Saya tahu betul, tidak ada suara tembakan. Tiba tiba puluhan tentara Belanda terbunuh, akhirnya gerilyawan meninggalkan dusun ini,†jelasnya.
Setelah peristiwa tersebut, setiap malam Jumat Legi, di lokasi persembunyian gerilyawan pada Jam 12 malam selalu terang benderang dari sinar kebiru biruan. Dari keyakinan warga, sinar itu ditimbulkan oleh sebuah keris peninggalan gerilyawan.
“Keris itu jenisnya pasopati,†kata Sarbini serius.
Munculnya sinar itu mengundang pengunjung. Rata-rata mereka berasal dari Madura. Hampir setiap minggu pungunjung datang ke lokasi keris tersebut. Namun sampai sekarang tidak ada satupun yang mampu mengambilnya.
Munculnya keris beraura positif itu tidak menganggu warga setempat. Justru setiap tahun saat panen padi maupun di zaman keemasan tembakau dulu, warga menikmati hasil panen melimpah.
“Semoga semua ada hikmahnya, termasuk adanya tentara disini dalam membangun desa ini dalam TMMD, saya doakan semuanya berjalan dengan lancar dan selamat. Seragamnya sama ijo ijo, tapi terus terang kalau tentara Belanda itu jahat dan tentara TNI itu membela rakyat,†tambah Sarbinisebelum  masuk ke dalam bilik rumah bambunya. (roz)