SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Melemahnya nilai Dollar atas rupiah tidak membuat harga kedelai impor ikut turun, namun harganya tetap saja selangit. Akibatnya, membuat pengusaha tempe di Lamongan, Jawa Timur menjerit.
Sejak sebulan terakhir harga kedelai impor terus meroket akibat tergencetnya nilai tukar rupiah. Jika sebelumnya harga kedelai Rp6500/kg, kini mencapai Rp7600/kg. Kenaikan harga kedelai terjadi setiap minggu dengan kisaran Rp.500/kg.
Tidak tahu kenapa harga kedelai masih mahal, padahal dolar sudah turun,” kata salah satu pengusaha kedelai asal Desa Plaosan, Kecamatan Babat, Yadi kepada SuaraBanyuurip.com.
Akibat mahalnya harga kedelai, Â keuntungan yang diperolehnya turun hingga 30 persen. Agar tetap bertahan, dan tidak gulung tikar disiasati dengan memperkecil ukuran produksi tempe.
“Kalau harga tempe di naikkan takutnya konsumen tidak mau membeli. Jadi disiasati dengan memperkecil ukuran tempe,” ujarnya.
“Umumnya para pengusaha tempe menjual tempe dengan cara irisan. Harganya Rp2000 per irisan,” lanjutnya.
Pengusaha tempe lain, Farida, mengaku, harus mengurangi produksi usahanya hingga 25 persen. Jika sebelumnya setiap hari memproduksi 1,5 kwintal, sejak harga kedelai melejit hanya memproduksi 1 kwintal.
“Saya mengharapkan pemerintah segera turun tangan menangani mahalnya harga kedelai impor ini. Jika tidak, para pengusaha tempe bisa gulung tikar,” harapnya.
Seperti diketahui nilai tukar Dolar sempat melejit hingga Rp14.500 per Dolar. Namun dalam empat hari terakhir nilai Dollar kembali melemah turun dikisaran Rp13.400. Akibat naiknya Dolar berdampak pada melejitnya harga berbagai bahan pokok salah satunya harga kedelai impor. (tok)