SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Penjaga perlintasan kereta api di Jalan KH Rosyid tepatnya di Kelurahan Jetak, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, membantah tudingan jika penyebab kecelakaan mobil Elf yang mengangkut rombongan pengajian dikarena terlambat menutup palang pintu.
“Saat itu pintu sudah mulai bergerak menutup, namun mobil itu tetap menerobos,†tegas penjaga pintu perlintasan, Lilik Purwanto (39), kepada suarabanyuurip.com, Kamis (18/10/2015).
Menurut dia, kereta barang bernopol NO 2713 yang melaju dari arah timur di jalur hilir (sebelah utara) sudah memberi tanda klakson saat masih berjarak seratus meter dari perlintasan. Sedangkan palang pintu satu yang berada di sebelah utara sudah mulai bergerak menutup.
“Setiap jarak 500 meter palang pintu sudah ada tanda mulai menutup. Karena pintu ini tidak bisa langsung menutup, pada saat masih terbuka itulah mobilnya nyerobot masuk di perlintasan,†kata warga Gang Useng, Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro itu.
Lilik menegaskan, tidak ada kondisi kerusakan baik terhadap sirine maupun palang pintu di perlintasan sebelum kecelakaan terjadi. “Semuanya normal dan berfungsi. Jadi tidak benar jika pintu terlambat menutup,†pungkas warga asli Bangkle Blora, Jawa Tengah itu.
Sebagamana diberitakan, akibat kecelakaan itu tiga orang meninggal dunia, dan 13 orang mengalami luka-luka. Sejumlah saksi mata dan korban selamat mengaku, jika palang pintu perlintasan tetap terbuka meski kereta sudah dekat dengan perlintasan. Bahkan sirine tanda kereta akan melintas tidak berbunyi.
Para korban tersebut adalah rombongan pengajian dari Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, yang akan mengikuti Haul di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Tulungagung.(suko)