SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Kepiawian calak Muhammad Ma’sum Al-Hidayat dalam menyunat anak di Kabupaten Tuban maupun  Bojonegoro, Jawa Timur, tak perlu diragukan lagi. Kejelian dan ketepatannya dibuktikan dalam sunat masal 106 anak, yang diselesaikan dalam waktu 80 menit.
“Per anak bisa disunat kurang dari 1 menit,” ujar Ma’sum kepada suarabanyuurip.com, dalam rangka Haul Agung Syech Maulana Ibrahim Asmoroqondi di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Jumat (14/7/2017).
Kali ini ratusan anak disunat oleh Ma’sum mulai pukul 08:00-09:20 WIB. Dia mengaku tidak menemui kendala berarti selama menyunat. Hanya ada satu anak yang membutuhkan penanganan khusus karena ada sumbatan kulit di organ vital. Itupun langsung bisa diatasi. Selain itu semua prosesi menyunat berjalan lancar.
Alumnus IKIP PGRI Unirow ini sudah biasa menangani sunatan masal. Selain di Asmoroqondi, setiap tahun dia juga menyunat di acara Haul Sunan Bonang Tuban dan juga di kawasan Kauman, Kabupaten Bojonegoro.
“Awalnya takut setelah dipotong ternyata tidak sakit,” sergah Irvan (12), peserta khitan asal Desa Kradenan, Kecamatan Palang.
Dia bersama beberapa peserta lain justru terlihat tertawa. Begitu pisau calak mengiris organ vital mereka. Usai khitan, peserta khitan langsung dibawa keluarganya istirahat di serambi masjid setempat.
Tak jarang terlihat para peserta menangis. Rata-rata mereka menangis justru ketika baru di hadapan calak, bukan ketika organ vital mereka dipotong.
Sebelum mengikuti prosesi khitan masal, peserta diajak berziarah bersama di makam Syech Asmoroqondi. Setelah itu sarapan bersama, dan panitia memberi pengarahan pengobatan setelah khitan dilakukan.
“Alhamdulillah semua peserta sudah berhasil disunat semoga kelak menjadi anak-anak yang soleh,†harap Ketua Yayasan Maulana Ibrahim Asmoroqondi, Haji Rahmat.
Salah satu juru kunci makam Asmoroqondi, Badrun menjelaskan, Haul Agung Syech Maulana Ibrahim Asmoroqondi setiap tahunnya diperingati tanggal 20 Syawal. Berbeda dengan haul Makam Sunan Bonang yang diperingati setiap hari Jumat Wage.
Semasa hidup Syekh Ibrahim Asmoroqondi memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam di daerah Tuban, khususnya di Desa Gesikharjo. Beliau dikenal sebagai penyebar agama islam pertama di wilayah setempat.
“Keberadaan beliau cukup bisa dirasakan berkahnya oleh masyarakat setempat,†tutur Badrun yang merupakan warga asli Desa Gesikharjo.
Ibrahim Asmoroqondi yang merupakan ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) tersebut lahir dari daerah Samarkandi di wilayah Asia Tengah, pada paruh kedua abad ke-14. Sedangkan dalam buku Babad Tanah Jawi menyebut namanya dengan sebutan Mahdum Ibrahim Asmoro atau Maulana Ibrahim Asmoro.
Perjalanan dakwah Syekh Ibrahim Asmoroqondi patut diteladani. Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Cabang Tuban KH. Ashabul Yamin mengatakan, beliau tidak pernah lelah menyebarkan agama Islam sampai akhir hayatnya.
“Tidak hanya waktu haul setiap malam Jumat juga tidak pernah sepi di masjid Asmoroqondi, jamaah riuh mengumandangkan tahlil dan berbagai doa,†tuturnya.
Sekitar tahun 1424 beliau wafat dengan meninggalkan beberapa peninggalan seperti, masjid, museum kecil, dan sumur wali (sumber air). Sampai sekarang masyarakat sekitar makam Asmoroqondi menggelar haul akbar setiap tahunnya. (Aim)