SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Melimpahnya produksi garam Lamongan, Jawa Timur, ternyata berbanding terbalik dengan harga jualnya di pasaran. Bahkan untuk produksi garam dengan kualitas baik, saat ini harga jualnya berkisar antara Rp150 hingga Rp350 perkilogram.
Harga jual itu sekira separo dari harga jual garam kualitas baik pada bulan Juli lalu. Saat itu, petani belum banyak yang melakukan produksi, sehingga harga masih cukup tinggi.
Untuk membantu petani meningkatkan kualitas produksi garamnya, Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan sejak tahun 2013 memfasilitasi petani garam dengan penggunaan media geoisolator. Yakni meja produksi yang menggunakan bahan seperti terpal.
Dinas Perikanan dan Kelautan Suyatmoko melalui Kabag Humas dan Infokom Sugeng Widodo, kepada SuaraBanyuurip.com, mengatakan, tahun ini, penggunaan media geoisolator sudah hampir merata di semua area produksi garam Lamongan.
“Kelebihan penggunaan media ini, yaitu dapat meningkatkan kualitas produksi. Butiran garam tidak lagi tercampur dengan tanah,” katanya.
Selain kualitas, kuantitas produksipun semakin meningkat, karena selain angin dan iklim yang mempengaruhi pembutiran garam, tidak ada lagi air yang meresap ke tanah. Sehingga penggunaan geoisolator dapat mempercepat pembutiran garam.
Data Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan menyebutkan, sampai dengan 12 Oktober 2015, produksi garam telah mencapai 26.525 ton dengan luas area seluas 213,4 hektar. Itu adalah realisasi dari target sebesar 30 ribu ton garam.
Saat panen seperti ini, harga garam memang cenderung anjlok, hanya mencapai Rp. 150-350 perkilogram, meskipun itu adalah garam dengan kualitas yang baik. Hal ini dikarenakan oleh produksi garam yang berlimpah di masa panen.
“Tahun lalu, dari luas lahan 352 ha, produksinya mencapai 32.152 ton. Sedangkan produksi garam terendah tercatat di 2013. Hanya mencapai 10.900 ton akibat musim hujan yang berlangsung cukup lama,” jelasnya.
Di Lamongan, areal pertanian garam semuanya berada di Kecamatan Brondong. Yakni di Desa Lohgung, Labuhan, Sedayulawas, Brengkok dan Sidomukti. (tok)