SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kepala Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Edi Sampurno, menyatakan, saat ini lahan pertanian di wilayahnya mulai krisis air irigasi. Di saat kemarau panjang ini lahan di sekitar lapangan Sukowati, Blok Tuban itu sangat buruh pasokan air.Â
Meski begitu sebagian lahan lainnya, masih bisa mengandalkan air dari sungai Bengawan Solo. Lahan semacam ini masih bisa berjalan, walau kemarau tahun ini demikian terik.Â
“Memang seharusnya bukan masa tanam, tapi petani banyak yang nekad karena berharap hujan mulai turun bulan ini,” ujar Edi Sampurno kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (29/10/2015).Â
Dari total 70 hektar lahan pertanian di Campurejo yang paling memprihatinkan adalah sekitar Pad A Sukowati. Hal ini karena sawah tersebut tidak terjangkau oleh air, karena lokasinya berada paling ujung.
“Kalau dikatakan karena limbah, saya belum tahu ya limbah itu seperti apa, dan kategorinya bagaimana. Lagipula saya belum ada laporan terkait itu,” ujar Edi.
Dia mengungkapkan, ada sekitar 500 meter persegi luas sawah yang berada di sekitar Pad A kering kerontang tidak bisa ditanami padi. Namun, pihaknya menawarkan solusi dengan merubah pola tanam, Â dan pemberian benih.
Edi memang sempat mendengar kabar, jika tiga orang pemilik sawah seluas 500 hektar tersebut minta kepada Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), operator dari Blok Tuban untuk dibeli lahannya. Tidak hanya itu, salah satu pemilik lahan yang disewa untuk pemasangan pipa juga minta dibeli.Â
Sementara itu, Kasubid Pengawasan dan Kerusakan Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bojonegoro, Suliana, menyebutkan, saat melakukan pengecekan di Pad A dan B Lapangan Sukowati, secara visual tidak ada limbah yang mencemari sawah warga.
“Tetapi untuk memastikannya menunggu hasil tes  kandungan tanah,” tandasnya. (rien)