SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Impian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) bisa mengelola sumur minyak tua akhirnya terpenuhi. Perusahaan pelat merah itu terpilih menjadi Kerja Sama Operasi (KSO) di Lapangan Malo di Desa Malo, Kecamatan Malo, setelah mengikuti tender beberapa waktu lalu.
“Untuk persiapannya kami sudah menggandeng mitra yakni PT Stupa Mahya Tama,” kata Direktur Utama Deddy Afidick kepada Suarabanyuurip.com saat ditemui di kantor DPRD, Rabu (11/11/2015).
Setelah terpiilih menjadi KSO di Lapangan Malo oleh pemilik Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP, PT BBS telah membeli data seismik dan menunjukkan prospek yang bagus.
“Lapangan Malo ini masih berupa hamparan kosong, belum ada sumur tua seperti lapangan lainnya,” tandasnya.
Dia menyatakan, luas Lapangan Malo yang akan dikelola yakni 35 kilometer persegi. Rencananya, untuk melakukan pengeboran akan menyewa peralatan canggih dengan kemampuan mengebor sedalam 2000 meter.
“Kalau di Lapangan Malo lokasi minyaknya dangkal. Tidak seperti Lapangan Banyuurip atau Sukowati,” tandasnya.
Kedepan, PT BBS akan melakukan Joint Vancher (JV) dengan PT Stupa Mahya Tama dan membuat usaha patungan atas nama PT Bojonegoro Stupa Energi.
“Jadi setelah produksi dimulai, bagi hasilnya PT Stupa Mahya Tama 75% dan PT BBS 25%. Kalau sekarang, kami hanya bagian sosial ekonominya saja,” tukas Deddy.
Masing-masing sumur yang akan dikelola BBS dapat menelan biaya hingga Rp13 miliar dengan kandungan minyak berkisar 1000-1500 barel perhari. Sedangkan pelaksanaannya masih menunggu dua tahun lagi.(rien)