SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bojonegoro Institute (BI) pesimis, puncak produksi Blok Cepu sebanyak 165.000 barel per hari pada akhir tahun 2015 bisa tercapai.
“Menurut saya tergantung operator,” kata Direktur Utama BI, Awe Saiful Huda, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (23/11/2015).
Karena untuk mencapai target produksi, menurut Awe, tergantung kesiapan operator, baik  dari sisi teknis maupun kesiapan fasilitas pendukung produksi. Pendekatan early production facility dan main production facilty  musti berjalan bersamaan.
“Tapi jika melihat perkembangannya sampai saat ini, saya pesimis peak production akan tercapai tahun ini,” imbuhnya.
Biasanya untuk mencapai produksi puncak itu melalui proses yang bertahap. Dilihat dari volume produksi saat ini mengalami naik turun.
Bulan April lalu produksi baru mencapai 80 ribu barel per hari. Padahal produksi puncak dihitung-hitung lagi diperkirakan tahun ini dapat mencapai 205.000 barel per hari dari yang sebelumnya diperkirakan hanya 165.000 bopd.
Dengan tertundanya produksi puncak, otomatis berpengaruh pada penerimaan pendapatan negara (APBN), yang mana 23 % bersumber dari sektor Migas. Padahal produksi Migas nasional mengalami kelesuan.
Bayangkan produksi migas nasional yang hanya mampu berkisaran pada 800-an ribu bopd, sedangkan kebutuhan konsumsi migas sudah mencapai 1,5 juta bopd. Jadi ada devisit sekitar 600-an ribu bopd.
“Hal ini tentu berpengaruh signifikan pada perencanaan pembangunan yang sudah ditargetkan dalam RPJMN,” tandasnya. (rien)